Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 27.5 ° C

Perjalanan Karier Ikon Persib Atep dalam 3 Babak

Irfan Subhan
Atep.*/DOK. PR
Atep.*/DOK. PR

PEMAIN datang dan pergi dari klub dalam iklim sepak bola profesional merupakan hal biasa. Terkadang ­pemain harus menerima kenyataan pahit, tidak diperpanjang kontraknya atau dijual ke klub lain kendati telah memberikan kontribusi gelar juara untuk klub. 

Ikon Per­sib, Atep, setelah 10 tahun memperkuat Maung Bandung akhirnya harus ber­pisah. Bobotoh tidak menyangka Atep le­pas.

Akan tetapi, tanda-tanda itu sebenarnya sudah terlihat saat Liga 1 2018 ketika pelatih Mario Gomez akan meminjamkan dia pada putaran satu, walau akhirnya tidak jadi. Untuk meninjau lagi perjalanan karier Atep di dunia sepak bola, Pikiran Rakyat merangkumnya dalam uraian tiga babak berikut ini. Kepada pembaca yang budiman, selamat membaca.

Memilih tinggal di mes UNI

Nama Persib dan Atep sangat sulit untuk dipisahkan. Keduanya se­olah telah menyatu. Di mana ada Persib, pasti ­ingatan akan tertuju kepada para pemainnya, salah satunya adalah pria kelahiran Cianjur tersebut.

Bahkan, Atep telah dianggap menjadi ikon Persib. Bobotoh pun menjuluki pemain berusia 33 tahun tersebut dengan sebutan ”Lord Atep”. Kiprahnya bersama skuad Maung Bandung memang tidak bisa dianggap remeh.

Selama 10 musim pemain yang identik dengan nomor punggung tujuh ini memperkuat Persib. Bersama Hariono, kedua­nya menjadi pemain yang paling lama membela Persib. Atep sendiri datang ke Persib pada Liga Super Indonesia musim 2008-2009 saat diasuh oleh Jaya Hartono.

Kedatangannya saat itu menjadi buah bibir karena sebelumnya Atep memper­kuat Persija  yang merupakan rival terbesar Persib. Namun, lambat laun bobotoh bisa menerimanya dan bahkan menjadi idola baru di tim Pangeran Biru.

Perjalanan seorang Atep hingga menjadi pemain sepak bola profesional dan ikon Persib harus melalui jalan yang berliku-liku. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, dia memang sangat menggemari sepak ­bola.

Persib.*/DOK. PR

Kecintaannya terhadap si kulit bundar membuat kedua orangtuanya mulai mendukung langkah Atep untuk lebih serius. Baru, pada usia 15 tahun dia masuk ke Sekolah ­Sepak Bola UNI yang saat itu masih terletak di Jalan Karapitan.

Di sinilah bakat Atep mulai diasah bersama Eka Ramdani yang merupakan rekan satu angkatan di salah satu SSB tertua di Kota Bandung itu.

Atep mencoba memperdalam ilmunya demi mewujudkan impian­nya menjadi seorang pemain sepak bola profesional.

Pada awalnya langkah Atep tidak berjalan dengan mulus. Dia harus bolak-balik Cianjur-Bandung untuk berlatih di Bandung. Baru mengikuti la­tihan selama tiga bulan dia sempat ragu dan pesimistis bisa melanjutkan perjalanannya di SSB UNI karena merasa capek harus menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam.

"Di UNI saya ditempa selama tiga tahun sebelum masuk ke karier sepak bola profesio­nal," kata Atep.

Atep/ANDRI GURNITA/PR

Sempat ragu untuk terus berlatih di UNI, dorongan dari dalam diri Atep justru semakin kuat hingga akhirnya memlih untuk tinggal di Mes UNI.

Keputusan tersebut memang sempat mengejutkan orangtuanya karena dia harus berpisah. Tinggal di Mes UNI membuat Atep harus lebih dewasa karena semua harus dikerjakan sendiri.

“Waktu itu sekitar tahun 1999-an, ­waktu tinggal di mes tidak ada saudara dan juga awalnya sama teman-teman juga tidak saling kenal,” katanya mengenang.

POR UNI Bandung/DOK. PR

Di tengah kegalauannya, Atep pun mulai mengenal satu per satu teman-temannya, termasuk Eka Ramdani. "Memori yang sulit dilupakan itu saat berbagi sama rekan-rekan satu mes. Kebetulan Eka satu angkatan dengan saya, jadi enggak heran kalau kita sudah saling tahu di lapang­an," ujarnya.

Jauh dari orangtua juga membuat Atep harus berhemat dalam mengeluarkan uang saku untuk kehidupan sehari-hari. Saat itu dia hanya dibekali uang sebesar Rp 10.000 per hari oleh orangtuanya.

Namun, Atep tidak pernah me­ngeluh dan bahkan dia semakin semangat untuk menjalani hari-harinya sekolah dan berlatih. Dari sinilah mental dia bisa di tempat untuk mewujudkan impiannya menjadi pemain sepak bola profesional.

Mulai bersinar di Persija

Selama mengenyam ilmu di SSB UNI, Atep mulai diasah kemampuannya dan dibina untuk menjadi pemain se­pak bola profesional.

Selain latihan, ayah dua putri ini juga sering diikutsertakan untuk mengikuti berbagai kejuaraan lokal dan di luar Bandung.

Atep terus berusaha meski mengaku tidak terla­lu berha­rap cita-citanya bisa terwujud. Namun, bakat pemain kelahir­an 5 Juni 1985 ini mulai terlihat hingga akhirnya dia mencoba mengikuti seleksi tim Persib U-15 untuk Haornas.

Selama tinggal di Mes UNI, Atep menjadi lebih disiplin karena segala sesuatunya ha­rus dia kerjakan sendiri mulai mencuci baju, sepatu, hingga mencari makan.

De­ngan tekadnya yang kuat untuk mengejar mimpi menjadi pemain se­pak bola, hal tersebut dia jalani dengan ikhlas dan penuh rasa bersyukur.

Atep.*/ARIF BUDI KRISTANTO/PR

Jatuh bangun demi mengejar cita-cita yang didambakan telah menjadi hal yang biasa bagi Atep. Bahkan, saat mencoba mengikuti seleksi Persib U-15 untuk Haornas awal tahun 2000, dia tidak lolos.

”Tapi saya enggak patah semangat karena latihan sudah menjadi kewajiban buat sa­ya dan itu mendorong saya semakin kuat,” katanya.

Perjuangan Atep yang pantang menyerah mulai membuahkan hasil. Dia dipanggil untuk memperkuat tim sepak bola Cianjur yang tampil pada Porda 2002 di Indramayu.

Sulung dari empat bersau­da­ra ini mengaku sempat ti­dak terlalu memikirkan keingin­an menjadi seorang pemain sepak bola profesional, meng­ingat ketatnya persaing­an yang harus diha­dapi.

Namun, ternyata jodoh tidak lari ke mana, jalan Atep mewujudkan cita-citanya tersebut mulai terbuka.

Setelah memperkuat tim Por­­da Cianjur, Atep dipanggil untuk memperkuat Persib U-18 untuk Piala Soeratin. Dari sinilah bakatnya mulai ter­ci­um hingga dia terpilih masuk skuad Tim Nasi­o­nal U-20 pada tahun 2003.

Satu tahun kemudian, dia mulai merasakan ketatnya atmosfer kompetisi sepak bola Indoensia setelah Persija Jakarta meminangnya untuk ber­main di Liga Indonesia pada tahun 2004. Bersama Macan Kemayoran, nama Atep mulai dikenal masyarakat luas. Persib juga sebenarnya ingin mendatangkan Atep, tetapi dia belum mendapatkan jaminan menjadi pemain inti.

Sebagai gelandang sayap, Atep bisa menunjuk­kan kete­rampilannya dalam mengasah si kulit bundar. Total empat tahun, suami dari Lilis Yamaini ini bergabung dengan Persija Jakarta yang menjadi tim pertama dalam karier profesionalnya sebagai pemain se­pak bola.

Berkat penampilannya yang cemerlang di Persi­ja, Atep akhirnya dipanggil untuk masuk skuad Tim Nasional Indo­nesia untuk Piala AFF 2005. Saat itu dia menjadi salah se­orang pemain termuda yang berada di timnas.

Atep/ANDRI GURNITA/PR

Selama memperkuat timnas, Atep banyak mendapat pelajaran berharga khusunya dari para pemain senior. Setelah membela timnas di Piala AFF 2005, dia kembali mendapat panggilan skuad Garuda di ­Piala Asia 2007.

Penampilan Atep yang semakin bersinar, membuat banyak klub ingin merekrutnya, salah satu­nya Persib. Pada awalnya Maung Bandung gagal mendatangkan Atep pada Liga Super Indonesia 2007-2008.

Saat itu, pihak Persib beru­sa­ha keras membujuk Atep ke Bandung karena desakan bobotoh kepada mana­jemen.

Persib gagal mendatangkan Atep, tetapi saat itu Maung Bandung dengan pelatih Arcan Iurie menjelma menjadi ”The Dream Team”. Persib juara paruh mu­sim dan mengalahkan peringkat atas Grup Timur, PSM.

Namun, satu musim berikutnya Persib akhirnya bisa mendatangkan Atep dari Persija dan ini menjadi titik balik bagi Atep hingga bisa menjadi ikon Pangeran Biru dan sulit dipisahkan satu sa­ma lainnya.

Juara!

Debut Atep bersama Persib pada awalnya tidak berjalan de­ngan mulus. Saat itu, pelatih Persib Jaya Hartono lebih banyak membangkucadangkan Atep, hingga dia jarang mendapat kesempatan untuk bermain pada musim pertamanya bersama Persib saat Liga Super Indonesia 2008-2009.

Sebagai pemain binaan lokal di mana saat itu klub-klub atau perkumpulan se­pak bola (PS) yang ada di Bandung masih di bawah naungan Persib, Atep dinilai menjadi salah satu contoh sukses hasil dari pembinaan klub lokal yang mampu menjejakkan kakinya tampil di kasta ter­tinggi sepak bola Indonesia.

Atep bahkan dicap menjadi salah seorang pemain lokal kebanggaan Jawa Barat. Sempat berpikir untuk meninggalkan Persib karena jarang mendapatkan kesempatan bermain di putaran pertama, nasibnya justru mulai berubah pada putaran kedua Liga Super Indonesia 2008-2009.

Atep/ANDRI GURNITA/PR

Saat itu Atep mulai mendapatkan menit bermain dan selalu masuk dalam tim inti. Gol pertama Atep tercipta pada musim 2008-2009 tepatnya pada 5 Mei 2009. Winger asal Cianjur itu mengemas satu gol ke gawang Pelita Jaya. Tetapi pada waktu itu, Maung Bandung harus meng­akui keunggulan Pelita Jaya 1-2.

Sejak saat itu Atep kerap mencetak gol untuk Persib dan menjadi pemain yang selalu diturunkan di setiap pertandingan.

Dalam data yang terhimpun, Atep mendapat rekor tersebut dari total lebih dari 11.000 menit mentas di level liga bersama Pangeran Biru. Dia sudah mengemas lebih dari 29 gol sejak era pelatih Jaya Hartono.

ATEP dan Firman Utina berbincang.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Torehan Atep berlanjut setelah mence­tak gol perdananya musim ini saat Persib mengalahkan Arema FC 2-0 di Gelora Bandung Lautan Api, 13 September 2018. Pemain bernomor punggung 7 itu menjadi pembuka keran gol pada laga pekan ke-21 Go-Jek Liga 1 2018 tersebut.

Masa kejayaan Atep dirasakan saat Persib dilatih oleh Djadjang Nurdjaman. Keinginan membawa Persib juara pula yang memperpanjang kesabaran Atep.

ATEP berdiskusi dengan Djadjang Nurdjaman.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Musim demi musim berlalu dan trofi juara itu tak kunjung datang. Baru pada musim keenamnya membela Persib, kesetiaan Atep berbuah trofi juara yang sudah diidamkan bobotoh selama 19 tahun. Atep memegang peran vital dalam keberhasilan Persib menjadi juara.

Ayah dua orang putri itu selalu dimainkan oleh Djadjang dalam 28 pertandingan sampai laga final di Stadion Jaka­baring Palembang 7 November 2014. Dia memiliki rekor bagus dan bisa dibilang menjadi jimat keberuntung­an bagi Persib pada musim 2014. Soalnya, setiap kali Atep mencetak gol, Persib selalu menjadi pemenang.

FORMASI tim Persib pada laga final Liga Super Indonesia 2014 di Palembang, Jumat 7 November 2014.*/ARIF HIDAYAH/PR

BOBOTOH menyambut antusias konvoi tim Persib seusai menjuarai LSI 2014 di Jalan Soekarno-Hatta, ­Kota Bandung, Minggu 9 November 2014.*/ARIF HIDAYAH/PR

Enam gol penting dia buat untuk memuluskan jalan maung Bandung menjadi juara LSI 2014 di Palembang. Atep merupakan pemain yang tampil konsisten mencetak gol setiap musim.

Dia turut berperan meng­antarkan Persib juara ­Piala Presiden 2015. Pada edisi Piala Presiden 2017, Atep bahkan menjadi pencetak gol terbanyak Persib de­ngan empat gol meski gagal ber­ujung trofi juara.

Pada Liga 1 2019 ini kebersamaan Persib dan Atep yang sudah terjalin selama 10 tahun ber­akhir. Hal tersebut memang cukup mengejutkan, karena sebelumnya Atep diprediksi akan bertahan dan memilih Persib sebagai tempat terakhirnya untuk berkarier sebagai pemain sepak bola profesional.

“Memang saya juga sudah prediksi ada ke arah sana. Tapi kepu­tusannya detik-detik terakhir," tutur Atep Stadion Persib, Jalan Ahmad Yani, Senin 14 Januari 2018.

Atep.*/DOK. PR

Banyak momen yang telah dia rasakan selama bergabung dengan Persib, salah satunya adalah saat dia mengambil keputusan pindah dari Persija ke Persib. Padahal, saat itu Atep masih diperlukan tenaganya oleh tim Macan Kemayoran.

“Saat masuk di Persib juga awalnya bukan pilihan utama, enggak masuk line up dan harus berjuang hingga akhirnya bisa mendapatkan posisi di tim inti, dan bisa hasilkan gol demi gol pada setiap pertandingan. Ketika saya ingin ke Persib dan ingin angkat trofi dan ini berhasil,” katanya.

Atep pun belum memikirkan rencana ke depan selepas dari Persib, tetapi dia masih berhasrat tetap bermain sepak bola selama dua musim ke depan.

“Inginnya tidak main di Indonesia, soalnya enggak mau kalau ketemu Persib. Cukup berat rasanya jika harus bertemu atau melawan Persib," tuturnya.***

Bagikan: