PJJ Dinilai Efektif Cegah Klaster Covid-19, Ini Catatan FSGI untuk Kemendikbud

- 26 Oktober 2020, 13:27 WIB
Ilustrasi PJJ. /Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/wsj.

PIKIRAN RAKYAT - Salah satu kelebihan Pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19 adalah mencegah munculnya klaster Covid-19 di sekolah. Namun, PJJ dinilai masih banyak kendala sehingga pelaksanaannya tidak tuntas.

Sekjen Federasi Serikat Guru Independen (FSGI) Heru Purnomo mengatakan, program PJJ dari Kemendikbud kelebihannya turut mengurangi dampak yang tidak diinginkan dari Covid-19, yakni memunculkan klaster baru di sekolah. Kemendikbud juga telah mengeluarkan panduan PJJ dalam Surat Edaran Sekjen No. 15 tahun 2020.

Namun, di samping itu, masih ada kekurangannya. Hal itu terkait penerapan metode pembelajarannya yang terlalu berat. “PJJ memakan korban jiwa, 2 siswi meninggal dunia karena beratnya PJJ,” katanya dalam siaran pers, Minggu, 25 Oktober 2020.

 Baca Juga: 5 Kegunaan Micellar Water, Salah Satunya Bisa Bersihkan Kuas Makeup

Menurut Heru, Kemendikbud masih belum memetakan masalah PJJ dengan data terpilah, seperti hambatan belajar secara daring dan luring per sekolah, per kecamatan, per kabupaten, per provinsi dan secara nasional. “Data ini diperlukan untuk melihat permasalahan secara spesifik sehingga intervensi pemerintah menjadi tepat sasaran dan tepat manfaat,” katanya.

Ia menambahkan, banyak masalah PJJ yang tidak terselesaikan, mulai dari PJJ fase pertama sampai fase kedua saat ini. Padahal, masalahnya masih sama, diantaranya seperti peserta didik dan pendidik yang tidak memiliki alat PJJ secara daring, sulitnya sinyal di daerah tertentu, mahalnya kuota internet dan lain-lain. “Langkah penanganan PJJ yang telah dilakukan justru tidak didasarkan pada akar masalahnya, sehingga cenderung salah obat karena diagnosanya keliru,” katanya.

Menurut Heru, FSGI mendorong Kemdikbud untuk melakukan pemetaan permasalahan PJJ dengan data terpilah. Ia mencontohkan, masalah hambatan PJJ secara daring dan luring per sekolah, per kecamatan, per kabupaten, per provinsi dan secara nasional. “Data ini diperlukan untuk melihat permasalahan secara spesifik sehingga intervensi pemerintah menjadi tepat sasaran dan tepat manfaat,” katanya.

 Baca Juga: Lumat Barcelona di El Clasico, Real Madrid Dapat Tambahan Amunusi Jelang di Liga Champions Nanti

Sebelumnya, Plt. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah-Pendidikan Khusus Kemendikbud, Praptono, mengakui masih ada kendala dalam penerapan PJJ di masa Covid-19. Ia mengatakan, Kemendikbud pernah melakukan survey di kalangan pendidik mengenai penerapan PJJ selama pandemi. Hasilnya, 60% guru kesulitan mengajar daring karena persoalan pembelajaran Informatika dan Teknologi. Anak-anak didik juga dikatakannya punya problem psikososial selama menjalankan PJJ.

“Pembelajaran jarak jauh tidak memberikan hasil yang cukup baik, bahkan tidak akan lebih baik dari tatap muka. Maka, kita melihat tatap muka itu jadi pilihan untuk, minimal, mempertahankan kualitas pendidikan kita,” tuturnya.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X