Kaji Vaksin Hingga Obat Corona, Rp 27, 3 miliar untuk 139 Penelitian Penanggulangan Covid-19

- 10 Juli 2020, 14:23 WIB
Ilustrasi Covid-19.* /PIXABAY/Avtar

PIKIRAN RAKYAT - Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional mengumumkan penerima proposal penelitian yang akan mendapatkan pendanaan Konsorsium Riset dan Inovasi untuk menanggulangi covid-19 tahap II, Jumat, 10 Juli 2020.

Terdapat 139 judul penelitian yang diterima dengan estimasi biaya penelitian mencapai Rp 27,3 miliar pada tahap II tersebut.

Judul penelitian yang diterima sebanyak 139 judul itu sebelumnya disaring dari 903 judul penelitian yang masuk ke konsorsium.

Baca Juga: Tes Masif di Kawasan Industri, Gugus Tugas Jabar Sediakan Ribuan Swab Test

Sebanyak 139 judul penelitian itu terbagi dalam 6 bidang, yakni pencegahan (30 judul), skrinning (15 judul), alat kesehatan (34 judul), obat-obatan dan terapi (15 judul),  multicenter clinic (4 judul), sosial-humaniora (41 judul).

Jumlah pendaftar pada tahap dua ini lebih banyak dibandingkan tahap I yang jumlahnya 189 judul. Biaya yang digelontorkan pada riset tahap pertama sebanyak Rp 60 miliar. Dengan demikian, total pendanaan tahap I dan tahap II berada di kisaran 90 miliar.  

Menteri Ristek/BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan, penelitian yang berada pada tahap II ini bisa melengkapi penelitian sebelumnya pada tahap pertama.

Baca Juga: Usai Ledakan Kasus di Klaster Secapa AD, Kini 99 Orang di Pusdikpom Kota Cimahi Positif Covid-19

Riset pada dasarnya diorientasikan kepada penanggulangan covid-19, baik itu dalam hal alat kesehatan, obat-obatan, suplemen, vaksin, hingga terapi.

"Tahap kedua ini, harapan saya kegiatan litbanggirap  (penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan) melengkapi apa yang belum selesai dilakukan oleh tahap pertama. Kita melihat covid masih merupakan pandemi yagn mengkhawatirkan, dengan jumlah infeksi yang semakin banyak dan mungkin itu merupakan bagian dari konsekuensi testing makin besar. Tapi kita harus berupaya mencegah penyebarannya," kata dia dalam konferensi pers melalui webinar, 10 Juli 2020.

Menurutnya, konsorsium riset dan inovasi penanggulangan covid-19 dibuat dengan menekankan penelitian lintas bidang. Selain itu terjadi juga kolaborasi antara peneliti dan industri sehingga hasil riset bisa diproduksi secara massal dan berdampak penting bagi masyarakat.

Baca Juga: Kaum Milenial Berkesempatan Jadi Ajudan Bupati Pangandaran Melalui Future Leader, Begini Syaratnya!

Bambang menuturkan, saat ini kerjasama peneliti dan industri diperlukan karena situasi yang darurat serta waktu yang singkat. Kedua hal tersebut telah menjadi tantangan yang berefek positif dalam riset dan inovasi terkait penanggulangan covid-19.

"Dengan dua tantangan itu, kerjasama bisa jadi lebih baik sehingga ada saling pengertian apa yang dibutuhkan masyarakat itu dipahami peneliti dan industri juga bisa memahami apa yang bisa dilakukan oleh peneliti," katanya.

Bambang merujuk kepada hasil riset dan inovasi untuk covid-19 pada tahap I. Menurutnya, pada tahap pertama telah dihasilkan 57 produk yang bisa diproduksi dalam jumlah besar. Produk-produk tersebut diluncurkan pada 20 Mei 2020. Belakangan ini juga telah diproduksi rapid test buatan lokal. Rangkaian proses riset dan hilirisasi itu dikatakannya tergolong singkat dan hal tersebut bisa terjadi karena adanya kolaborasi antara berbagai pihak.

"Kegiatan litbanggirap terkait covid-19 dalam waktu singkat ini, hanya bisa dilakukan bila kita mau kolaborasi dan sinergi. Artinya, kolaborasi tidak bisa ditawarkan lagi. Ini bukan hanya karena kondisi emergency, tapi ini adalah  pola masa depan," katanya.***

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Indo Bali News

Tips Mengolah Daging Agar Empuk

21 September 2020, 16:42 WIB
X