Sisi Lain yang Harus Diketahui Dari Kota Sumedang, Dulunya Pernah Jadi Tempat Pembuangan Cut Nyak Dien

- 4 Agustus 2022, 19:03 WIB
Makam Cut Nyak Dien di kompleks Gunung Puyung, Kecamatan Sumedang Selatan
Makam Cut Nyak Dien di kompleks Gunung Puyung, Kecamatan Sumedang Selatan /Antara/Ho/Jabar Pemprov

PIKIRAN RAKYAT – Kota Sumedang memiliki sisi lain yang jarang diungkapkan publik. Selain memiliki keindahan alam yang indah. Sumedang yang dijuluki Kota Tahu ini, juga menyimpan peristiwa sejarah.

Kota yang berjarak 46 Km dari Kota Bandung ini, sejatinya adalah kota yang penuh dengan sejarah panjang. Bahkan bisa dikatakan bagian penting dari perjuangan menuju fase kemerdekaan Republik Indonesia.

Literatur sejarah sendiri menyebutkan, jika nama Sumedang diambil dari ucapan sang Prabu Tadjimalela, tokoh sentral dan utama berdirinya kerajaan Sumedang Larang.

Pada kata-kata Insun Medal Insun Madangan, yang diucapkan Tadjimalela memiliki arti falsafah “Aku Dilahirkan – Aku Menerangi”, di kemudian hari mengalami perubahan dan pengucapan pada diksi. Sun Madang, lalu seiring waktu berubah menjadi Sumedang.

Baca Juga: Kisah Pertemuan Pertama Tan Malaka dan Soekarno, Rumah Soebardjo Jadi Saksinya

Sebelumnya Sumedang bernama Himbar Buana dan Kerajaan Tembong Agung.

Di awal abad 19, Kota Sumedang mulai diperhatikan oleh dunia luar, karena pernah dijadikan oleh pihak Belanda untuk mengasingkan dan membuang salah satu pahlawan nasional Cut Nyak Dien dari Lampadang Aceh ke Kota Tahu ini.

Dikarenakan pemberontakan yang dilakukan Cut Nyak Dien bersama suaminya di Aceh untuk melawan penjajahan Belanda pada era Perang Aceh.

Menariknya kedatangan perempuan pemberani yang dijuluki ”Ibu Perdu” atau “Ibu suci” ini pada tahun 1906 ke tempat pengasingannya – tidak ada yang mengetahuinya termasuk warga Sumedang.

Pihak Belanda, lewat Gubernur Militernya saat itu bernama Joannes Benedictus van Heutsz – memang menyembunyikan identitas perempuan berumur 58 tahun itu, usia saat dimana ia diasingkan.

Karena ditakutkan akan terjadinya gangguan stabilitas keamanan di kota Sumedang.

Pangeran Aria Soeria Atmadja, selaku bupati Sumedang pada era pengasingan Cut Nyak Dien pun pada akhirnya mengetahui jika sosok perempuan misterius dari Tanah Rencong itu, adalah Cut Nyak Dien – yang namanya sudah terkenal sebagai pemberontak yang berani melawan Belanda.

Sang bupati yang juga dikenal sebagai Pangeran Mekkah ini, segera mengistimewakan “Ibu Perdu” ini dengan memberikan tempat tinggal yang nyaman di daerah Kampung Kaum, Regol Wetan, Sumedang.

Baca Juga: Kisah Heroik Syahruddin, Wartawan Penyebar Kabar Indonesia Merdeka

Tragis memang sekaligus ironi.

Kedatangan Cut Nyak Dien ke Sumedang – datang sebagai tawanan perang, tanpa ada sambutan yang berarti. Disembunyikan dari tanah kelahiranya yang berjarak 2.000 Km lebih.

Datang dengan pakaian lusuh, pucat dan menahan penyakitnya yang kerap kambuh ke kota yang sebelumnya tidak pernah ia datangi. Bahkan belum ia ketahui.

Cut Nyak Dien memang tidak lama hidup dalam pengasingan, hanya dua tahun.

Terhitung dari tahun 1905 kali pertama dia datang ke Sumedang. Lalu meninggal dunia pada tahun 1908.

50 tahun kemudian, barulah makam perempuan kuat dan berani ini akhirnya dicari dan ditemukan.

Sebelumnya warga Sumedang tidak ada yang mengetahui letak persis makam Cut Nyak Dien.

Ali Hasan, Gubernur Aceh, yang pada tahun 1959 – sosok yang berjasa mencari dan menemukan makam Cut Nyak Dien di daerah kompleks Gunung Puyuh, Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan.***

Editor: Tita Salsabila


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network