Jumat, 10 April 2020

Prestise Pewarisnya Alami Penurunan, 11 Bahasa Daerah Berstatus Punah

- 19 Februari 2020, 16:10 WIB
ILUSTRASI Bahasa Inggris.* /Pixabay

PIKIRAN RAKYAT - Prestise sebuah bahasa ada kaitannya dengan kemajuan dan kemunduran sebuah bahasa. Sebuah bahasa bisa terancam mengalami kemunduran bila prestise terkait dengannya menurun.

Peningkatan prestise bahasa daerah dan bahasa nasional perlu mendapatkan perhatian dalam menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional.

Kepala Bidang Perlindungan, Pusat Pengembangan dan Perlindungan, Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah mengatakan, hal tersebut terkait dengan kajian vitalitas bahasa daerah yang dilakukan oleh lembaganya selama periode 2011-2019.

Baca Juga: Ceritakan Kronologi Meninggalnya Ashraf Sinclair, Aming: Mulutnya Berbusa

Dalam kajian tersebut, terpantau tingkat kelestarian penggunaan suatu bahasa daerah. Ada yang statusnya masih aman sampai yang punah.

Terkait dengan status bahasa daerah yang berada di golongan kritis itulah, ia menyebutkan mengenai pentingnya sebuah prestise bahasa.

Ia mencontohkan mengenai Bahasa Hitu di Maluku, yang dianggap tengah mengalami kemunduran karena sebagian penuturnya sudah tidak lagi menggunakan bahasa tersebut.

Baca Juga: Musim Balap 2020 Segera Dimulai , Simak Line-Up Pembalap Formula 1 yang akan Ikuti Tes Pra-Musim di Barcelona

"Kemunduran itu tandanya sebagian penutur, anak dan orang tua, sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah di wilayah persebarannya. Menurut penelitian kami, itu karena prestise bahasa itu juga menurun," ujarnya, Rabu, 19 Februari 2020.

Ganjar mencontohkan mengenai prestise menurun dengan keengganan menggunakan suatu bahasa, karena dianggap kampungan.

"Jadi, banyak remaja dan orang tua yang sudah meninggalkannya. Itu yang disebut mengalami kemunduran," ujarnya.

Baca Juga: Diisukan akan Bercerai dengan Krisdayanti, Raul Lemos Datangi Dewan Pers

Persoalan prestise itu juga dipandangnya sebagai tantangan yang dihadapi saat ini, terkait dengan pelestarian sebuah bahasa. Lebih khusus lagi, membuat prestise bahasa daerah tetap tinggi. Terlebih lagi di Indonesia dimana bahasa daerah selama ini memperkaya bahasa Indonesia.

"Di era milenial ini kita sangat bersaing dengan bahasa asing yang banyak juga diminati oleh generasi muda," katanya.

Berdasarkan penelitian Badan Bahasa pada periode 1991-2019, setidaknya terpetakan bahasa daerah sebanyak 718 bahasa (tidak termasuk dialek dan subdialek).

Baca Juga: Langsung Ditransfer ke Sekolah, Skema Baru Penyaluran Dana BOS Dinilai Lebih Efektif

Pemetaan itu juga belum termasuk bahasa yang terdapat di Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Dari bahasa daerah yang terpetakan itu, Badan Bahasa kemudian melakukan kajian vitalitas terhadap 90 bahasa pada periode 2011-2019.

Hasil kajian menunjukkan, sebanyak 11 bahasa dianggap berstatus punah, 6 bahasa dianggap kritis, 25 bahasa terancam punah, 3 bahasa mengalami kemunduran, 19 bahasa dianggap rentan, dan sebanyak 26 bahasa masih dianggap aman.

Baca Juga: Kemenkes: 3 WNI Terkonfirmasi Positif Virus Corona di Kapal Diamond Princess Tak akan Dipulangkan sampai Negatif

Ganjar mengatakan, upaya pewarisan bahasa daerah pada prinsipnya, adalah lebih utama dilakukan mulai dari tingkat keluarga.

Asumsi umum yang kini ada, katanya, orang tua sudah jarang mewariskan bahasa daerah ke anak-anaknya.

"Padahal, benteng utama pemeliharaan bahasa daerah itu di keluarga. Pewarisannya itu di keluarga," katanya.

Baca Juga: Situ-situ di Bandung Lenyap, Pemkot Bandung Dianggap Membiarkan Banjir Terus Terjadi

Selain itu, terdapat tantangan tersendiri penggunaan bahasa daerah bagi keluarga yang tinggal di kota besar. Di sana, acapkali banyak penduduknya multietnis, sehingga menuntut penggunaan bahasa Indonesia.

"Keluarga yang tinggal di kota besar juga sekarang banyak yang menikah campur (etnis), sehingga berbeda bahasa. Akhirnya memilih bahasa nasional," katanya.

Ganjar mengatakan, dalam menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional ini, pihaknya mengusung tema Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing. Penekanan khusus diarahkan kepada pelestarian bahasa daerah.

"Kami menginginkan bahasa daerah itu sebagai penyumbang kosakata bahasa Indonesia supaya lebih kaya. Dan, diperingatan bahasa ibu juga, kami tetap mengajak untuk melestarikan bahasa dengan dimulai dari benteng pertama, yaitu dari keluarga," katanya. ***


Editor: Syamsul Bachri

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X