Senin, 27 Januari 2020

Sistem Pendidikan Indonesia Rentan Picu Stres, Mendikbud Didesak Lakukan Revolusi

- 6 Desember 2019, 16:40 WIB
Sistem pendidikan di Indonesia diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya stres. Sesaknya jadwal yang sesuai dengan kurikulum tak sedikit membuat siswa malah merasa tertekan bahkan alami stres. /REUTERS

BANDUNG (PR) - Sistem pendidikan di Indonesia diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya stres. Di kutip dari Lembaga Riset Universitas Gadjah Mada, dari empat pelajar, satu diantaranya alami stres akademik.

Rajin pangkal pandai, peribahasa ini yang akrab di kenal oleh masyarakat Indonesia. Kalimat tersebut mungkin masih menjadi 'roh' sistem pendidikan di Indonesia saat ini, namun sesaknya jadwal yang sesuai dengan kurikulum tak sedikit membuat siswa malah merasa tertekan bahkan alami stres.

Berkutat dalam berbagai macam kemelut aktivitas di sekolah. Dari pagi hari hingga petang, belum lagi waktu malam yang disita dengan 'Pekerjaan Rumah', rutinitas itulah yang diulang selama lima hingga enam hari dalam seminggu.

Baca Juga: Persaingan Ketat Klasemen Liga Inggris, Liverpool Tak Boleh Abaikan Optimisme Rodri

"Di sekolah banyak tugas yang belum mencapai kapasitas siswa, ya itu membebani banget dan bisa jadi faktor terjadinya kelelahan akibat jam pembelajaran, terus banyak tugas ditambah materi yang tidak sesuai dengan kapasitas seseorang," tandas Rafy salah seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri di Tasikmalaya.

Ia menegaskan stres akademik yang dialami oleh siswa diakibatkan oleh tuntutan, tekanan, dan beban akademik yang melebihi kapasitas. Suasana pendidikan di sekolah tentunya berbeda dengan di rumah atau lingkungan bermain. Seringkali perubahan suasana ini berdampak bagi emosi, sosial, dan tentunya akademik anak.

Sedangkan berdasarkan Lembaga Riset Universitas Gadjah Mada, stres akademik disebabkan dari berbagai faktor, seperti besarnya beban tugas, terlalu banyak materi yang harus dipelajari, kebutuhan siswa untuk berprestasi akademik, tuntutan akademik yang diperkuat tekanan orang tua, sekolah, dan teman sebaya.

Baca Juga: SEA Games 2019, Modern Pentathlon Sumbang Dua Emas

Dengan diterapkannya sistem full day berarti kegiatan belajar berlangsung hampir satu hari lamanya. Mulai dari pukul 08:00 pagi hingga 15:00 sore. Sistem ini juga mendapat kritik dari Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru (IGI) Muhammad Ramli Rahim.

Halaman:

Editor: Andika Thaselia Prahastiwi

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Situs Resmi Universitas Gadjah Mada, Situs Resmi Institut Teknologi Sepuluh November

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X