Jumat, 13 Desember 2019

Penulis Berbahasa Sunda Semakin Berkurang

- 3 Desember 2019, 19:58 WIB
AKSARA Sunda/ANTARA /

BANDUNG, (PR).- Penulis jurnal budaya berbahasan Sunda terus berkurang akibat minimnya minat menulis dikalangan generasi muda.

Karya tulisan budaya banyak diminati masyarakat luar negeri karena miliki data otentik lapangan.

“Memang sulit dipastikan apa yang menjadi penyebab utama terus berkurangnya penulis budaya berbahasa Sunda, khususnya untuk jurnal. Berkurangnya karya tulis berbahasa Sunda mengakibatkan bahan literasi jurnal tidak mengalami penambahan,” ujar Aquarini Priyatna Prabasmoro, staf pengajar di Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran, Selasa 3 Desember 2019

Dia memberikan paparan tentang Jurnal Internasional pada Peningkatan Kualitas Kinerja Pegawai Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat di Ruang Pertemuan Balai Pelestarian Nilai Budaya, Jalan Cinambo, Kota Bandung.

Baca Juga: Unpad Kukuhkan Dua Guru Besar di Bidang Sastra dan Linguistik, Aquarini Priyatna dan Eva Tuckyta Sari

Terhadap minimnya penulis dalam bahasa Sunda menurut Aquariani, lahan penulis berbahasa Sunda di jurnal nasional maupun internasional masih terbuka luas.

“Seharusnya ini menjadi pemicu bagi penulis senior maupun generasi muda, jangan sampai bahasa Sunda ahlinya ada di luar negeri seperti  Doktor Mikihiro Moriyama di Jepang,” ujarAquariani.

Hal tersebut diakui oleh Rameli Agam salah seorang penulis yang juga jurnalis senior di Surat Kabar Bahasa Sunda Galura, bahwa kondisi saat ini sangat sulit untuk mendapatkan karya tulis berbahasa Sunda yang baik.

Baca Juga: Mangle, Majalah Berbahasa Sunda Bertahan di Tengah Gempuran Zaman


Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

X