Senin, 9 Desember 2019

Jangan Sekadar Jadi Hypebeast

- 23 November 2019, 15:31 WIB
ILUSTRASI.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Konsumen harus mempunyai pengetahuan yang cukup atas produk yang dibeli. Tanpa pengetahuan itu, konsumen hanya akan terjebak pada perilaku konsumtif yang kini dikenal dengan istilah hypebeast.

Dosen Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Raeny Dwi Santi mengatakan, secara teori, keputusan membeli sesuatu mesti didasari pada pengetahuan konsumen.

Misalnya terkait kualitas, fitur apa saja yang dimiliki, dan sebagainya. Tapi kemudian, saat ini mulai banyak konsumen impulsif, yaitu mereka yang membeli tanpa berpikir panjang.

"Negatif efeknya jadi hypebeast. Mereka hanya berpikir tentang merk. Mereka membeli itu sebagai cara untuk menunjukkan bahwa ia mampu," katanya usai menjadi pembicara kunci pada The 2nd International Conference and Business, Economics, Social Science, and Humanities (ICOBEST) 2019 di Kampus Unikom, Kamis, 21 November 2019.

Hypbeast merupakan istilah yang biasa disematkan kepada mereka yang membeli berbagai barang demi terlihat keren di depan orang lain.

Istilah ini juga disematkan pada mereka yang terobsesi dengan tren fashion terkini.

Mereka rela merogoh kocek lebih dalam tanpa memikirkan nilai yang didapat dengan harga itu.

Raeny mengatakan, dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, tak sulit bagi konsumen untuk mendapatkan informasi produk. Informasi juga bisa didapat dari testimoni pengguna lainnya.

"Testimoni teman juga bisa memberi informasi tentang kualitas produk," ujarnya.



Pembicara dari Youngson University Korea, Jihyun Park mengemukakan tentang bagaimana melindungi hak untuk dilupakan di era internet ini.

Hak untuk dilupakan sangat penting karena jejak digital saat ini telah menjadi informasi personal.

Informasi personal tak lagi sebatas identitas pribadi seperti nama, alamat, juga tanggal lahir. Informasi terkait DNA dan informasi biologis juga termasuk di dalamnya.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X