Dua Dosen UI Raih Habibie Award

- 16 November 2019, 13:43 WIB
PROFESOR Eko Prasojo saat menerima Habibie Award di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa, 12 November 2019. Dua dosen Universitas Indonesia meraih Habibie Award 2019.*/DOK HUMAS UI

Sebelumnya, Eko juga menjadi orang ketiga dari Asia yang menerima The Braibant Lecture 2019 dari International of Administraive Science di Belgia.

Hingga saat ini, The Habibie Award telah dianugerahkan kepada 62 tokoh di Indonesia. Selain Eko, Ilmuwan UI Prof Ivandini Tribidasari Anggraningrum dari Fakultas Matematika dan IPA UI juga memperoleh penghargaan serupa. Ia dinilai berjasa t‎elah menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan baru, serta meningkatkan kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa melalui ilmu dan keahlian yang dimilikinya.

Ivandini telah menghasilkan delapan karya paten yang sebagian besar berkenaan dengan elektrokimia intan berkonduktivitas listrik atau sering kali dikenal sebagai boron-doped diamond (BDD) yang berfungsi sebagai sensor dan biosensor. Intan yang dahulu hanya menjadi perhiasan, kini telah berkembang untuk mengatasi pencemaran lingkungan dan energi alternatif.

“Pengembangan teknologi sintesis memungkinkan modifikasi material intan dengan partikel lain agar intan yang memiliki konduktivitas listrik dapat dibuat. Salah satu cara yang paling populer adalah menyisipkan doping boron ke dalam struktur intan untuk menimbulkan hantaran listrik," kata Ivandini.

Topik tersebut ia dalami secara konsisten sejak tahun 2000 ketika ia menjadi kandidat doktor di The University of Tokyo, Jepang. Hingga saat ini, ia masih melanjutkannya dengan berbagai pengembangan.

Terkait aplikasi dan potensinya, ahli kimia tersebut mengungkapkan telah menghasilkan beberapa pengembangan aplikasi intan untuk detektor dalam sistem kromatografi cair dan deteksi obat-obatan, asam amino, DNA, RNA serta berbagai senyawa kimia dan biokimia lain.

Selain itu, BDD juga mampu diaplikasikan sebagai sensor senyawa kimia, seperti berbagai jenis logam, ozon, oksigen, dan berbagai gas seperti klorin, hingga dimanfaatkan sebagai elektrokatalis dalam pengelolaan limbah air dan industri, dan energi alternatif.

Sejumlah tantangan dan hambatan yang dialaminya dalam pengembangan penelitiannya ini seperti belum memiliki mesin pembuat BDD sendiri.

Selama ini, Ivandini masih memanfaatkan mesin pembuat BDD milik mitra penelitiannya, namun tetap saja BDD yang digunakan menjadi lebih terbatas. Penyediaan bahan kimia dan instrumentasi juga menjadi tantangan tersendiri. 
Beberapa kali ia dan tim penelitiannya harus menunggu 3-4 bulan untuk memperoleh bahan kimia yang dibutuhkan, bahkan untuk melakukan pengukuran Ia dan tim harus berkeliling kota hingga ke luar negeri seperti Jepang, Korea, dan Barcelona. Untuk itu, Ivandini berupaya untuk bekerjasama dan melibatkan pihak industri.***

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X