Minggu, 23 Februari 2020

Sepak Bola Tak Cukup Andalkan Kaki

- 6 November 2019, 16:30 WIB
ILUSTRASI.*/CANVA

SEPAK bola modern tak cukup mengandalkan kaki. Kecerdasan pemain turut menentukan kepiawaiannya mengolah bola di lapangan. Kesadaran itu membuat remaja yang tergabung di Tim Nasional Pelajar U-15 tetap sekolah di tengah padatnya jadwal latihan setiap hari.

Richardo Youwee (15) bersama rekan-rekannya setiap hari mengikuti program latihan mulai pukul 06.00. Sesi latihan pertama berakhir pukul 09.00. Setelah istirahat, sesi latihan dimulai lagi pada sore hari. Di jam-jam antara dua sesi latihan itu ia gunakan pula untuk belajar.

"Kalau Kamis ada guru datang untuk belajar bersama," kata Richardo ditemui di SMA Negeri 4 Bandung, Selasa, 5 November 2019.

Ia dan teman-temannya paling senang belajar di Hari Sabtu. Sebab mereka belajar di sekolah. Pada hari itu mereka seperti anak pelajar SMA pada umumnya. Belajar di kelas bertemu dengan teman-teman lain, bukan hanya rekan setimnya.

Di antara anggota Timnas Pelajar ini, 16 diantaranya kini tercatat sebagai siswa kelas X SMAN 4 Bandung. Sementara empat orang lainnya menempuh pendidikan di SMPN 51 Bandung.

Remaja yang rata-rata berusia 15 tahun itu datang dari berbagai daerah, sedikitnya 13 provinsi, termasuk Aceh, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku Utara, NTB, Papua, dan Papua Barat. Mereka merupakan hasil seleksi nasional untuk memperkuat Timnas Pelajar U-15.

Semula tim ini dibentuk khusus untuk mengikuti ajang IberCup, sebuah turnamen sepak bola internasional khusus untuk anak muda. Tahun ini turnamen digelar di Portugal. Mereka berhasil menggondol posisi ketiga dan mendapat tiket untuk berlaga di IberCupElite. Kompetisi yang akan diikuti oleh klub-klub profesional dunia itu akan digelar di Portugal pada April 2020.

Manajer Timnas Pelajar U-15 Ray Manurung mengatakan, sebenarnya tugasnya mengasuh tim ini selesai setrlah IberCup usai. Tapi dengan tiket itu, ia memutuskan untuk melanjutkan pembinaan anak-anak ini. "Sepulang dari sana mereka bertanya kami bagaimana ini? Apa harus kembali pulang dan enggak main bola? Akhirnya kami putuskan melanjutkan tim ini sebagai tim mandiri," katanya.

Ray meyakini, kemampuan di lapangan tak cukup hanya pembinaan sebulan dua bulan. Sementara tim-tim pesaing disiapkan matang bertahun-tahun. Ia kemudian menjajal konsep baru pembinaan sepak bola.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X