Jumat, 13 Desember 2019

Program Asuh Menuju Prodi Unggul, Polban Bantu Naikkan Akreditasi Perguruan Tinggi

- 1 November 2019, 13:11 WIB
PELAKSANAAN Review dan Tindak Lanjut Program Asuh Menuju Prodi Unggul Polban 2019 di Hotel Holiday Inn Bandung, Kamis, 31 Oktober 2019.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR

BANDUNG, (PR).- Program Asuh Menuju Prodi Unggul Politeknik Negeri Bandung diharapkan bisa mengantarkan perguruan tinggi asuhannya terakreditas B (Baik Sekali). Program ini dilakukan dengan memaksimalkan fungsi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di perguruan tinggi asuh.

Ketua Pelaksana Program Asuh Politeknik Negeri Bandung 2019 Mohammad Febryanto mengatakan, tahun ini merupakan tahun ketiga mendapat program ini. Sebanyak enam perguruan tinggi menjadi perguruan tinggi asuh, mereka adalah STIKea Holistik Purwakarta, STKIP Syekh Manshur Pandeglang, STMIK Mardira Indonesia, STKIP Purwakarta, Institut Teknologi Sains Bandung, dan STIE Muhammadiyah.

"Kami diberi daftar dari Kemenristekdikti, perguruan tinggi di klaster 3 dan 4 berdasarkan peringkat Dikti dan terakreditasi C. Kami memilih dari situ, salah satunya harus dari daerah tertinggal," kata Febry di sela-sela pelaksanaan Review dan Tindak Lanjut Program Asuh Menuju Prodi Unggul Polban 2019 di Hotel Holiday Inn Bandung, Kamis, 31 Oktober 2019.

Melalui program ini, kata dia, Polban memberi pendampingan dalam membangun dan memfungsikan SPMI di setiap perguruan tinggi. Serangkaian lokakarya digelar untuk menguatkan SPMI, menyusun dokumen, sampai pemantauan dan evaluasi.

"SPMI ini ada lima prinsip, penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan standar pendidikan tinggi. Ada yang sudah asa SPMI, ada juga yang belum. Targetnya mereka bisa jadi terakreditasi B, bisa naik ke klaster 2," tutur Febry.

Ia mengatakan, penyusunan dokumen menjadi tantangan tersendiri. Dokumen dibuat untuk 24 standar pendidikan tinggi, masing-masing harus memenuhi lima prinsip SPMI tersebut. Standar itu diantaranya terkait standar kompetensi lulusan, penilaian, pembelajaran, dosen, sarana prasarana, dan lainnya.

Program selama sekitar enam bulan ini diikuti oleh ketua prodi atau ketua unit pengendalian internal. "Harapannya mereka bisa memahami standar di pergurian tinggi. Mereka yang nantinya melaksanakan standar itu," katanya.

Ketua Satuan Pengendali Mutu Polban Emma Hermawati Muhari mengatakan, pemberian akreditasi sekarang berbeda dengan sebelumnya. Saat ini akreditasi tidak hanya mempertimbangkan skor penilaian saja, tetapi jiga harus memenuhi syarat perlu akreditasi dan syarat perlu peringkat.

"Kalau dulu nilai saja cukup, kalau sudah memenuhi pasti dapat. Sekarang tidak begitu lagi, dilihat dulu syarat perlu akreditasi dan syarat perlu peringkatnya," tururnya.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X