Rabu, 11 Desember 2019

Kecanduan Obat Badan Seperti Robot Bahkan Bisa Gila

- 27 Oktober 2019, 19:17 WIB
ILUSTRASI narkoba.*/DOK. PR

SERANG, (PR).- Penggunaan obat jenis penenang di kalangan pelajar saat ini sedang marak di Banten, termasuk Kota Serang. Untuk itu Badan Nasional Narkotika (BNN) Provinsi Banten memberikan pelatihan kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK) di setiap sekolah, baik negeri maupun swasta di tingkat SMP dan SMA.

Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi BNN Banten Yanuar Sadewa mengatakan, para guru BK tersebut diberikan pelatihan serta pembinaan. Mulai dari "briefing intervention" sampai "skirinung". Sehingga, ketika ada siswa atau pelajar yang terlihat nakal, tidak disiplin dan ada indikasi mengarah ke pemakaian obat-obatan tersebut bisa dilakukan "skrining". 

"Kalau memang terindikasi, baru kami yang turun dan ambil si anak ini untuk menjalani proses rehabilitasi. Jadi nanti ada yang kami rehabilitasi di sekolahnya. Kami yang datang ke sana selama proses rehabilitasi untuk memberikan konseling. Kemudian, ada juga siswa yang datang ke BNN. Saat ini memang sedang booming obat penenang di kalangan pelajar, apalagi Banten," katanya, Sabtu 26 Oktober 2019).

Selama Januari hingga September selalu ada peningkatan. Bahkan, pada usia yang masih sangat dini, seperti usia 13 tahun sampai 18 tahun. Padahal, usia tersebut masih sangat rentan terhadap penyakit dan kontaminasi obat-obatan. "Kasus pelajar yang mengkonsumsi obat-obatan tersebut yang sudah kami layani sekitar 92 orang. Ada sekitar 45 atau 47 orang yang merupakan pelajar SMP dan SMA. Bahkan, ada anak perempuan umur 13 tahun akrit mengkonsumsi obat tersebut.

Biasanya, kata dia, pelajar ini mengkonsumsi obat-obatan tersebut ketika hendak tawuran atau menghadiri acara musik, baik dangdut maupun lainnya. Alasannya, agar mereka memiliki keberanian dan tidak merasa malu. Sehingga, mereka dengan sengaja meminum obat penenang. 

"Biasanya satu strip itu dijual dengan harga Rp 20.000 sampai Rp 25.000. Jelas murah, pelajar pasti kebeli. Mereka biasanya hantem tiga butir penenang sekaligus, sekali minum. Terus engga bisa tidur kan, buat netralinnya atau downer itu pake jenis satunya. Baru mereka bisa tidur. Kelamaan konsumsi begituan, ya kayak robot, kaku," katanya.

Saat ini, para pecandu obat tersebut dirawat di daerah Pamarayan. Sebab, Provinsi Banten belum memiliki Rumah Sakit Jiwa (RSJ) untuk menangani pasien penderita gangguan jiwa. "Jadi ada pecandu yang diagnosanya gila, dan ada pula orang yang memang sudah gila. Dari pecandu ini bisa menjadi kehilangan akal atau gangguan jiwa. Karena kan memiliki tingkat stres dan resah yang tinggi," ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ikbal menjelasakan, segala jenis obat-obatan telah dilakukan pengawasan oleh pihaknya. Namun hanya di toko obat dan apotek saja, sedangkan di warung kecil atau klontongan belum dilakukan.

"Kalau apotek dan toko obat, kami sudah melakukan pengawasan. Apalagi untuk obat keras seperti tramadol dan eximer. Tapi memang, untuk di warung kecil itu kami belum. Soalnya kewenangan kami hanya di apotek dan toko obat saja. Kalau untuk ke warung, itu nanti kami koordinasi dulu dengan pihak terkait," ucapnya.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X