Senin, 24 Februari 2020

Indonesia Harus Tingkatkan Kemampuan Berinovasi

- 9 Oktober 2019, 19:45 WIB
Ilustrasi.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Indonesia perlu meningkatkan kemampuan inovasinya. Indeks inovasi global Indonesia saat ini berada pada peringkat 85 dari 129 negara.

Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University Indrawati, Ph.D menjelaskan, revolusi industri 4.0 telah mengubah wajah marketing dan manufaktur. Sebagian perusahaan mengalami disrupsi.

Saat ini semua perusahaan menjelma menjadi perusahaan teknologi. Mereka menginvestasikan modalnya untuk teknologi. "Tetapi tidak semua perusahaan yang berinvestasi untuk kemampuan teknologinya menjadi inovatif. Perusahaan lain yang investasinya tidak lebih besar, bisa jadi performa inovasinya lebih baik. Jawabannya ialah kemampuan inovasi," katanya saat menjadi pembicara pada seminar internasional Sustainable Collaboration in Business, Information and Innovation (SCBTII) dan International Seminar & Conference on Learning Organization (ISCLO) 2019 di Hotel El Royale Bandung, Rabu, 9 Oktober 2019.

Ia menjelaskan, kemampuan inovasi merupakan kemampuan untuk menyerap, beradaptasi, dan mengubah sebuah teknologi menjadi aktivitas operasional, manajerial, dan transaksi yang spesifik untuk menghasilkan produk bernilai yang mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.

Menurut Indrawati, ada empat hal yang harus diperhatikan dalam membangun kemampuam inovasi. Pertama, kemampuan pengembangan teknologi. Langkah ini dilakukan melalui proses adaptasi, modifikasi, dan pengembangan teknologi. Kemudian diinternalisasi dan digunakan untuk membuat perubahan teknologi, proses, dan produk.

Kedua, kemampuan operasional untuk menghasilkan produk atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Ketiga, kemampuan transaksional yaitu dengan menghasilkan keuntungan dari memangkas biaya-biaya, seperti biaya marketing dan pengiriman. Keempat, kemampuam manajemen. Perusahaan harus bisa membuat operasional yang efektif dan efisien.

Guru Besar ITS Riyanarto Sarno mengatakan, aktivitas manajemen biasanya lebih dinamis. Sehingga seringkali aplikasi-aplikasi yang digunakan tidak bisa mengejar perubahan bisnis proses yang bisa berubah setiap enam bulan sekali.

"Perubahan bisnis proses tidak langsung diikuti perubahan aplikasi. Perlu waktu lebih dari enam bulan untuk mengubah aplikasi," katanya.

Ia menawarkan service oriented platform sebagai solusi untuk mengintegrasikan berbagai sistem yang digunakan dalam sebuah organisasi.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X