Selasa, 10 Desember 2019

Wirausahawan Mahasiswa Tak Bisa Andalkan Perbankan

- 2 Agustus 2019, 20:42 WIB
DARI kiri ke kanan: Dosen Fikom Unisba Muhammad E. Fuadi, Head of Community Development & CSR PT Smartfren Telecom Dani Miftakhul Akhyar, Direktur Operasional & External Relation Matoa Indonesia Yanuar Ilmawan S., Kepala Humas Lembaga Penjamin Simpanan Nur Budiantoro, Costume Maker Rangga saat menjadi pembicara di Seminar Wirausaha Mahasiswa, Peluang dan Tantangan Industri Kreatif untuk Mahasiswa di Aula Unsiba, Jumat, 2 Agustus 2019.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR

BANDUNG, (PR).- Perbankan belum punya kebijakan yang mendukung usaha baru yang dirintis mahasiswa. Mahasiswa perlu mengoptimalkan sumber daya di luar perbankan untuk membangun usahanya.

Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung Ferry Darmawan mengatakan, minat mahasiswa untuk berwirausaha sangat tinggi. Usaha digital menjadi salah satu yang paling banyak dikembangkan.

"Dari hal-hal yang kecil bisa jadi pekerjaan yang serius," kata Ferry saat membuka Seminar Wirausaha Mahasiswa, Peluang dan Tantangan Industri Kreatif untuk Mahasiswa di Aula Unsiba, Jumat, 2 Agustus 2019.

Soal pendanaan selalu menjadi salah satu kendala yang dihadapi wirausahawan baru. Sayangnya, perbankan belum punya mekanisme khusus untuk membantu pendanaan usaha baru, apalagi usaha yang dikelola mahasiswa. "Perbankan masih menggunakan mekanisme usaha pada umumnya. Sehingga start up tidak mudah mendapat pendanaan," kata Kepala Humas LPS Nur Budiantoro.

Bank hanya akan membiayai usaha yang bisa memenuhi prinsip kelayakan yang biasa disebut 5C, character (karakter peminjam), capital (modal), capacity (kemampuan), condition (kondisi usaha), dan collateral (jaminan). Modal menjadi salah satu yang paling sulit karena wirausahawan harus punya modal awal yang cukup untuk mendapat fasilitas pendanaan. Padahal banyak usaha mahasiswa yang berangkat dari modal yang kecil. "Jaminan juga sulit. Bank pasti minta jaminan," ujarnya.

Memang saat ini sudah muncul banyak aplikasi yang menawarkan pinjaman bernasis teknologi atau financial technology (fintech). Namun Budi mewati-wanti agar mahasiswa tak tergiur menggunakan fasilitas pendanaan ini. "Teman-teman mahasiswa harus pertimbangkan konsekuensi dan dampaknya. Pinjaman online tidak disarankan," ujarnya.

Alasannya, karena ketika terjadi gagal bayar, nasabah bisa dikejar dan ditagih dengan cara yang memalukan. Belum lagi bunga yang cukup tinggi.

Budi mendorong mahasiswa bisa mengatasi persoalan pendanaan tanpa harus meminjam ke bank. Menurutnya, era teknologi saat ini modal tak selalu jadi kendala krusial. Karena ada banyak sumber daya yang bisa dimanfaatkan, misalnya media sosial, koneksi internet, dan menjamurnya market place untuk memasarkan produk. "Dari dapur kecil bisa memasarkan lewat media sosial atau lainnya, usaha sudah bisa menerima banyak pesanan," katanya.

Budi mengatakan, ada dua hal yang bisa menjadi solusi pendanaan usaha, yaitu menabung dan investasi. Menabung harus di bank atau lembaga keuangan yang resmi dan terdaftar. "Pilih produk tabungan atau investasi yang sesuai kebutuhan dan karakter. Menabung adalah prioritas, bukan sisa kalau ada," tuturnya.]


Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

X