Rabu, 11 Desember 2019

LPTK Belum Cetak Guru yang Dibutuhkan Era Revolusi Industri 4.0

- 20 Juli 2019, 08:01 WIB
REVOLUSI industri 4.0/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) belum siap menghasilkan guru profesional yang memenuhi kebutuhan revolusi industri 4.0. Revitalisasi LPTK harus bisa memberi jalan keluar atas kebutuhan itu.

Pakar pendidikan Syawal Gultom mengatakan, dari 800 LPTK yang ada di Indonesia saat ini, secara umun belum siap menghasilkan guru profesional sesuai kebutuhan revolusi industri. Hanya satu dua LPTK saja yang sudah siap.

"Kalau guru masih tidak paham soal manajemen informasi, sistem informasi, di era revolusi industri itu berarti bukan guru profesional," katanya saat menjadi pembicara di Seminar Internasional Professional Teacher Development in Digital Era for Making Indonesia 4.0 yang diselenggarakan di Trans Luxury Hotel, Bandung, Jumat, 19 Juli 2019.

Ia mengatakan, guru yang tidak pernah diajar dengan pembelajaran campuran (blended learning) dan pembelajaran aktif (active learning) akan sulit menerapkan metode itu. Blended learning merupaakan pembelajaran yang menggabungkan antara pertemuan tatap muka dengan pembelajaran online. Metode ini menggabungkan berbagai cara penyampaian, gaya pembelajaran, dan menggunakan berbagai media dalam interaksi dengan peserta didiknya.

Guru Besar Universitas Medan itu mengatakan, revitalisasi LPTK menjadi jawaban untuk mengatasi ketidaksiapan itu. Namun, revitalisasi yang sudah dimulai empat tahun lalu belum menukik ke persoalan. Kondisi LPTK saat ini sangat bervariasi dari segi akreditasi, kelembagaan, bahkan jumlah pengajar. 

Dari segi mahasiswa yang diterima pun bervariasi. "Siapa yang menjadi guru? Harus yang berbakat dan berminat. Tapi apakah mahasiswa dites bakatnya? Tidak. Di Malaysia, hanya yang peringkat lima besar yang bisa daftar jadi guru," tuturnya.

Dengan berbagai kondisi itu, kata Syawal, mustahil melakukan intervensi di tingkatan S1. "Maka seleksi PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang harus dikendalikan," katanya.

Tahapan ujian juga harus diubah. Hanya yang lulus uji pengetahuan yang boleh melaksanakan PPL (Program Pengalaman Lapangan). Hal itu penting, agar mereka tidak menerapkan yang keliru di PPL. "Mungkin kelulusannya akan rendah. Tidak apa-apa," ujarnya.

Ia menambahkan, sejak dini calon guru harus dikenalkan dengan teknologi dan proses online. Semua proses dilakukan secara online.

Sekretaris Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ainun Na'im mengatakan, revitalisasi LPTK bertujuan untuk menghasilkan guru-guru yang ideal. Faktor manusia menjadi sentral dalam proses revitalisasi. "Penggunaan teknologi juga penting, namun peran manusia sangat sentral," katanya.

Revitalisasi belum rampung, masalah baru menghadang. Ainun mengatakan, setahun terakhir, SMK kekurangan guru produktif. Kekurangan sekitar 127 ribu guru produktif.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar mengatakan, ramalan tentang masa depan cerah Indonesia akan tercapai jika talenta generasi muda berhasil dikembangkan. Indonesia diprediksi menduduki posisi 7 kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada 2030 dan meningkat posisi 4 pada 2050. "Dan itu lagi-lagi kembali ke pendidikan," katanya.

Ia mengatakan, multi pendidikan harus jadi fokus pertama. Sebab dari segi jumlah, LPTK sudah sangat besar. Tinggal bagaimana meningkatkan relevansinya.

Kabar baiknya, isu otomatisasi yang mencuatkan keresahan karena hilangnya banyak jenis pekerjaan, tak banyak mempengaruhi guru atau tenaga pendidik lainnya. Sebab peran guru dalam proses pembelajaran masih sulit diotomatisasi.

"Kata kuncinya, kualitas pendidikan tidak akan melebihi kualitas gurunya. Kalau diperpanjang, kualitas LPTK nya juga.

Tanggung jawab pengelola PPG dan LPTK, di sana lah kualitas pendidikan kita diletakkan," tuturnya.*** 



Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

X