Minggu, 5 April 2020

Temuan Alamat Janggal di PPDB 2019, Ini Penjelasan Penghuni

- 21 Juni 2019, 18:57 WIB
CALON siswa didampingi orang tua melakukan proses pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA melalui sistem zonasi di SMAN 2 Kota Bekasi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 17 Juni 2019.*/ANTARA

 

BANDUNG, (PR).- Tim Investigasi Domisili Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 Jawa Barat telah memeriksa semua temuan terkait Kartu Keluarga yang digunakan untuk mendaftar PPDB. Sejauh ini, pengaduan ini hanya ada di Kota Bandung.

Ketua Tim Investigasi Domisili PPDB 2019 yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jawa Barat Heri Suherman mengatakan, belum ada temuan juga pengaduan serupa dari kota dan kabupaten lain. "Tidak ada (temuan), sejauh ini hanya di Kota Bandung," kata Heri di Bandung, Jumat, 21 Juni 2019. Ia menduga, hal itu lantaran peminat sekolah di Kota Bandung sangat tinggi. 

Heri mengatakan, timnya telah turun langsung ke tiga alamat yang dinilai janggal. Pertama KK yang berlokasi di Jalan Sumatera nomor 42 Kota Bandung. Alamat itu berlokasi di SMP Negeri 2 Bandung.

Ia mengatakan, pendaftar PPDB memang menumpang alamat di sana. KK itu sendiri diterbitkan lebih dari 6 bulan yang lalu, sehingga bisa digunakan untuk mendaftar PPDB 2019. "Memang menumpang alamat, mungkin itu minta izin ke penjaga lama," katanya. 

Sedangkan untuk dua lokasi lain di Jalan Bali dan Kalimantan, Heri mengatakan, KK yang digunakan memang KK warga setempat yang sudah diterbitkan sejak lama. "Bukan KK baru, makanya jadi temuan. Kalau KK baru malah tidak akan jadi temuan karena tidak akan bisa digunakan untuk mendaftar," tuturnya. Ia mengatakan, semua hasil pemeriksaan telah diserahkan ke Dinas Pendidikan.    

"PR" menemui Neneng, warga yang berdomisili di Jalan Bali nomor 15A. Neneng menjelaskan, rumah tersebut merupakan milik orangtuanya yang sudah ditinggali sejak 1963. Rumah tersebut ditinggali sampai sekarang oleh keluarganya. "Kami bersaudara sebelas orang, berkembang cucunya sudah puluhan. Bahkan kakak saya sudah ada yang punya cucu. Di sini ada delapan atau sembilan KK, saya mesti cek lagi," katanya saat ditemui di kediamannya.

Di alamat itu, memang terdapat beberapa bangunan yang menyatu di persil lahan itu. "Bisa dilihat sendiri, penghuninya memang banyak," ujarnya.

Ia menjelaskan, alamat Jalan Bali 15A dan Jalan Bali 15A Belakang merupakan bangunan terpisah dan tidak mempunyai hubungan keluarga. Alamat itu memiliki sejarah panjang, sebab pada mulanya rumah di Jalan Bali 15A merupakan paviliun dari sebuah bangunan yang kini beralamat Jalan Bali 15 dan 17. Di bagian belakang paviliun itu terdapat beberapa rumah dengan ukuran kecil. "Mungkin dulunya rumah pegawai. Sampai sekarang masih dihuni penduduk. Dulu waktu jaman saya kecil, rumah-rumah itu banyak sampai tembus ke Jalan Kalimantan. Tapi kemudian lahannya menjadi sekolah, sisa ada lima rumah di belakang," katanya.

Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X