PPDB Kisruh, Anak Rancaekek Jadi Susah Sekolah ke Kota Bandung

- 20 Juni 2019, 12:24 WIB
SISWA dan orangtua murid harus mengantre panjang saat mengikuti seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi.*/YULIUS SATRIA WIJAYA/ANTARAFOTO

SOREANG, (PR).- Kekisruhan dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) dirasakan Yuyun, seorang ibu yang baru saja mendaftarkan anak laki-lakinya ke satu SMA negeri di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Ia mengaku sudah berada di sekolah sejak pukul lima pagi demi mendapatkan nomor antrean, kemudian prosesnya baru selesai pada tengah hari.

"Panjang banget antreannya, banyak banget, lama lagi prosesnya," kata Yuyun, yang mengaku tidak bisa melakukan pendaftaran online.

Yuyun menilai sistem zonasi merugikan anaknya, karena menghambat sang anak untuk mendaftar di sekolah-sekolah negeri di Kota Bandung, yang ia pandang lebih berkualitas.

"Jadi terfokus di sini aja... Sementara yang NEM-nya (nilai hasil ujian nasional) tinggi kan kita inginnya pada sekolah di Bandung, mempermudah ke perguruan tinggi," tuturnya kepada BBC News Indonesia.

loading...

Menanggupi kekisruhan PPDB, Dewan Perwakilan Rakyat berencana memanggil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi yang berjalan kisruh di sejumlah daerah.

Wakil ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati mengatakan, pihaknya akan bertanya sejauh mana PPDB ini telah dipersiapkan.

"Terus yang kedua, sejauh mana evaluasi yang sudah dilakukan terhadap PPDB tahun 2017, 2018. Ketiga, bagaimana kesiapan dan perangkat di lapangan sehingga kebijakan ini tetap dilaksanakan," kata Reni kepada BBC News Indonesia.

Berdasarkan sistem zonasi yang diterapkan Kementerian Pendidikan, seleksi penerimaan siswa baru didasarkan pada jarak rumah ke sekolah.

Halaman:

Editor: anef


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X