Senin, 16 Desember 2019

Sempat Ragu Akan Kemampuannya, Dipasukha Edbert Raih Nilai Ujian Nasional Tertinggi di Jawa Barat dengan Nilai Sempurna

- 15 Mei 2019, 19:10 WIB
SISWA peraih nilai UN SMA kelas IPA yang tertinggi di Jawa Barat, Dipasukha Edbert. yang bahkan sempat tidak percaya telah meraih nilai sempurna untuk empat pelajaran yang diuji, ketika ditemui di sekolahnya, SMAK BPK Penabur Harapan Indah Kota Bekasi, Rabu, 15 Mei 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

TAK percaya dan menduga semua adalah hoaks belaka. Itulah perasaan yang terbersit di benak Dipasukha Edbert ketika mendengar kabar perihal nilai sempurna yang ditorehkannya saat mengerjakan Ujian Nasional. Namun, saat kian banyak ucapan selamat disampaikan kepadanya melalui aplikasi pesan, Edbert pun mulai percaya seraya berucap syukur akan sesuatu yang tak pernah diduganya itu.

"Jadi, awalnya itu dikasih tahu orang tua yang mendapat ucapan selamat dari kepala sekolah. Waktu itu sempat tidak percaya juga kaget, rasanya seperti tersambar petir di malam hari. Tapi setelah diperlihatkan juga hasil penilaiannya, baru saya merasa senang dan lantas bersyukur," kata remaja yang karib disapa Edbert itu kala ditemui di sekolahnya, SMAK BPK Penabur Harapan Indah Kota Bekasi, Rabu, 15 Mei 2019.

Edbert sempat tidak percaya akan hal tersebut karena pengalamannya ketika beberapa kali mengikuti try out. Jadi, setelah menyelesaikan soal-soal UN pun, meski merasa telah mengerjakan dengan kemampuan terbaiknya, Edbert tak mematok dapat menorehkan nilai sempurna. Apalagi, sampai mengantarkannya sebagai siswa SMA peraih nilai UN terbaik se-Jawa Barat.

"Utamanya saat mengerjakan soal Bahasa Indonesia yang saya rasa paling sulit dibandingkan mata pelajaran lain, karena kecenderungan pemahaman untuk menjawab soal yang subjektif, tidak sepasti ilmu eksak semisal Matematika juga Fisika," kata remaja kelahiran Jakarta, 26 September 2001 itu.

Untuk soal Matematika juga Fisika, siswa kelas XII IPA itu memang lebih percaya diri hasilnya akan baik. Pasalnya, ia tak menemui kesulitan berarti saat mengerjakan 35-40 soal yang diujikan karena jauh sebelum UN, ia telah rutin berlatih soal.

"Saya tidak ikut bimbingan belajar, hanya mengandalkan buku kumpulan soal yang disiapkan sekolah. Hampir tiap hari saya meluangkan waktu untuk berlatih soal-soal di buku itu," katanya.

Agar konsentrasinya tak buyar saat belajar, ia telah menyusun aturan sendiri. Misalnya, ia belajar di ruangan khusus yang jauh dari keberadaan alat-alat elektronik. Semua alat elektronik tersebut diyakininya bisa mendistraksi fokus juga konsentrasi belajar.

Selain mempersiapkan ruangan khusus, Edbert juga telah menentukan waktu yang paling pas untuk belajar. Waktunya ialah selepas bangun tidur pukul 04.00 WIB sebelum berangkat ke sekolah.


Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

X