Sabtu, 14 Desember 2019

Akhirnya Lampaui Singapura, Publikasi Ilmiah Indonesia ke-2 ASEAN

- 11 April 2018, 07:09 WIB

JAKARTA, (PR).- Jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia melampaui Singapura untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir. Pada triwulan pertama tahun ini, yakni hingga 6 April 2018, publikasi ilmiah Indonesia tercatat sebanyak 5.125 publikasi, sedangkan Singapura 4.948 publikasi.

Indonesia hanya kalah dari Malaysia yang memublikasikan sebanyak 5.999 jurnal ilmiah. Sementara Thailand dan Vietnam di posisi ke-4 dan 5 dengan capaian sebanyak 3.741 dan 2.185 publikasi.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, dalam tiga tahun terakhir, Kemenristekdikti terus berusaha menggenjot peningkatan jumlah publikasi ilmiah. Di antaranya melalui beragam kebijakan strategis untuk mendorong para profesor, dosen dan peneliti untuk produktif menulis publikasi ilmiah.

Menurut dia, publikasi bukan hanya sebagai tugas dan kewajiban dosen, tetapi juga menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah riset. 

Ia menuturkan, kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari jumlah hasil riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nasir mengeluarkan Permenristekdikti Nomor 20/2017 tentang Pemberian Tunjungan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.

Regulasi tersebut untuk menyokong Permenristekdikti Nomor 44/2015 tentang SNDikti yang mewajibkan para lukusan S2 dan S3 melakukan publikasi ilmiah. 

Pada akhir tahun lalu, Kemenristekdikti juga meluncurkan Science and Technology Index (SINTA), pengindeks publikasi dan sitasi jurnal ilmiah untuk mendorong kultur publikasi bagi dosen dan peneliti di Indonesia.

“Ikhtiar itu pun akhirnya mulai berbuah. Setelah melampaui Thailand sampai akhir 2017 dengan jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia mencapai angka 18.500, pada triwulan pertama 2018 Indonesia berhasil menggeser Singapura, menempati urutan ke-2 di ASEAN setelah Malaysia,” kata Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu, 11 April 2018.

Ia mengatakan, kuantitas publikasi ilmiah internasional Indonesia harus berbanding lurus dengan kualitasnya. Ia menegaskan, hasil riset harus bermanfaat bagi masyarakat sehingga meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia.


Halaman:

Editor: Dhita Seftiawan

Tags

Komentar

Terkini

X