Rabu, 26 Februari 2020

Pendidikan Berbasis Islam Harus Fokus Kualitas, Bukan Kuantitas

- 1 Desember 2016, 02:39 WIB
Ketua Dewan Pembina Yayasan Darul Hikam Ahmad Muzani (kiri), Dirjen Dikdasmen Kemendikbud RI Hamid Muhammad (baju biru), dan Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T Soemitra (kanan) turut membunyikan sirine sebagai pertanda pembangunan SMP dan SMA Darul Hikam di Dago Giri, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 30 November 2016.*

NGAMPRAH, (PR).- Dari sekitar 213.000 sekolah yang ada di seluruh Indonesia, sekolah dengan kualitas terbaik masih didominasi oleh sekolah-sekolah swasta. Meski begitu, sekolah swasta juga mendominasi sekolah dengan kualitas terburuk, termasuk sekolah-sekolah berbasis pendidikan Islam. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hamid Muhammad, sekolah-sekolah swasta berbasis pendidikan Islam di Indonesia rata-rata kurang berkualitas, karena hanya berada di urutan menengah ke bawah dalam rangking mutu sekolah. "Kalau dirangking dalam hal kualitasnya, 100 sekolah terbaik di Indonesia itu adalah sekolah swasta. Namun, yang kualitasnya jelek juga sekolah swasta. Nah, posisi sekolah swasta yang berbasis Islam itu ada di mana? Ada di menengah ke bawah. Kalau dirangking, sekolah swasta kita itu yang terbaik bukan sekolah berbasis Islam," kata Hamid saat memberikan sambutan di acara peletakan batu pertama pembangunan SMP/SMA Darul Hikam, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 30 November 2016. Menurut dia, sekolah-sekolah milik Muhammadiyah yang dianggap cukup berkualitas juga berada di rangking menengah ke bawah. Demikian pula dengan sekolah-sekolah berbasis pendidikan Islam ternama yang lainnya. "Seharusnya semua sekolah-sekolah Islam itu fokusnya kepada mutu, bukan lagi mencari siswa sebanyak-banyaknya sampai tidak terkelola dengan baik," katanya. Hamid memaparkan, Kemendikbud selalu menanamkan tiga hal untuk meningkatkan kualitas sekolah, yakni melalui tenaga pendidik maupun kepala sekolah yang baik, fasilitas belajar yang baik, serta aktivitas pembelajaran yang baik untuk mendorong minat belajar siswa didik. "Guru ditangani dengan baik, diseleksi dengan baik, jadikan mereka profesional, kegiatan pembelajaran itu otomatis akan berjalan dengan baik, apapun kurikulumnya. Mau diganti kurikulum setiap lima tahun, kalau gurunya bagus, enggak akan ada masalah. Kemudian kepala sekolah, carilah yang visioner, yang betul-betul menjadi manager. Jadi, sekolah itu mau maju atau tidak, ditentukan oleh kepala sekolah dan guru," katanya. ***


Editor: Hendro Susilo Husodo

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X