Sabtu, 22 Februari 2020

Formulasi Kurikulum SMK Diterapkan 2017

- 15 September 2016, 05:45 WIB
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi (Kedua Kanan) usai menyaksikan penandatanganan MoU Peningkatan Kompetensi Peserta Didik SMK, di Gedung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu, 14 September 2016. Formulasi kurikulum khusus untuk pendidikan vokasi di SMK akan mulai diterapkan mulai semester ajaran baru di tahun 2017 mendatang.*

JAKARTA,(PR).- Formulasi kurikulum khusus untuk pendidikan vokasi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan segera rampung. Nantinya akan mulai diterapkan mulai semester ajaran baru di tahun 2017 mendatang. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Kementrian Pendidikan dan Kebuayaan, Mustaghfirin Amin menuturkan dalam formulasi kurikulum yang tengah digodog tersebut pihaknya mematangkan perubahan rasio praktek dan teori. Semula, rasio praktek dan teori sebelumnya berkisar antara 40:60, atau 50:50. Kini, dalam kurikulum khusus untuk SMK diformulasikan rasio praktek lebih mendominasi yakni 70:30. "Masalah rasio ini yang kami formulasikan dalam kurikulum. Sehingga siswa lebih banyak melakukan praktek-praktek di lapangan. Agar mereka menjadi insan yang produktif di lapangan. Sehingga lulusan yang dihasilkan SMK bisa lebih berkualitas," ujarnya ketika ditemui seusai penandatanganan kerjasama Peningkatan Kompetensi Peserta Didik SMK, di Gedung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu, 14 September 2016. Dia menjelaskan, formulasi kurikulum SMK dilakukan sesuai dengan perkembangan yang diminta dari dunia industri. Penyesuaian perlu dilakukan agar lulusan SMK yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pasar. Berdasarkan data nasional, menunjukkan angka pengguran dari lulusan SMK cukup merisaukan. Per tahun 2012, 40 persen pengangguran yang ada di Indonesia berasal dari lulusan SMK. Dari hasil survei yang dilakukan Asian Development Bank, hal tersebut terjadi karena lulusan SMK tidak memenuhi harapan pihak penyedia lapangan pekerjaan. Dalam penandatanganan kerjasama siang itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud bekerjasama dengan PT. Trans Retail Indonesia untuk pemberdayaan tenaga kerja dari lulusan SMK. Mustaghfirin menuturkan, dari total 15.000 tenaga kerja yang dibutuhkan untuk 30 gerai baru yang dibuka 2017 mendatang, 7.000 diantaranya akan berasal dari SMK. Kerjasama meliputi fasilitasi praktik kerja lapangan (PKL) bagi peserta didik, fasilitasi peningkatan kompetensi guru produktif, fasilitasi penyusunan standar operasional pelaksanaan PKL, fasilitasi penyusunan materi dan tempat uji kompetensi, fasilitasi pelaksanaan uji kompetensi dan sertifikasi, hingga pengembangan database lulusan SMK.***


Editor: Siska Nirmala Puspitasari

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X