Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 30.1 ° C

Pascasarjana Antropologi Unpad Akan Dirikan Museum Kedaulatan Pangan Masyarakat Jabar

Catur Ratna Wulandari
DOSEN Antropologi Universitas Padjadjaran Budi Rajab (kedua dari kiri) berbincang dengan Direktur Utama Pikiran Rakyat Perdana Alamsyah (kedua dari kanan) di Kantor Pikiran Rakyat Jalan Asia Afrika 77 Bandung, Kamis, 7 November 2019.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR
DOSEN Antropologi Universitas Padjadjaran Budi Rajab (kedua dari kiri) berbincang dengan Direktur Utama Pikiran Rakyat Perdana Alamsyah (kedua dari kanan) di Kantor Pikiran Rakyat Jalan Asia Afrika 77 Bandung, Kamis, 7 November 2019.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR

BANDUNG, (PR).- Program Studi Pascasarjana Antropologi Universitas Padjadjaran tengah merancang pendirian museum kedaulatan pangan masyarakat Sunda. Museum tersebut direncanakan bisa menjadi pusat rujukan bagi siapapun yang memerlukan informasi tentang pangan di Jawa Barat.

Dosen Antropologi Unpad Budi Rajab mengatakan, sebelum pendirian museum itu, digelar seminar tentang ketahanan pangan pada akhir November ini. "Tidak hanya soal makanan, tapi segala sesuatu yang berkaitan dengan kedaulatan pangan," kata Budi saat berkunjung ke Redaksi Pikiran Rakyat di Jalan Asia Afrika 77 Bandung, Kamis 7 November 2019.

Seminar ini diselenggarakan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Beberapa tokoh yang direncanakan hadir dan berbicara dalam seminar ini antara lain Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, budayawan Ajin Rosidi, dan Guru Besar Sejarah Unpad.

Ketua Program Studi Pascasarjana Antropologi Unpad Rini Soemarwoto mengatakan, dalam seminar tersebut akan membahas beberapa hal, antara lain perubahan budaya Sunda, perubahan wilyah, ketahanan pangan Jawa Barat, serta kemuseuman. "Dari seminar itu kemudian akan dipecah menjadi empat FGD (Forum Group Discussion) supaya bisa membuat rumusan-rumusan terkait pembentukan museum ini," katanya.

Ia mengatakan, soal kedaulatan pangan ini mengandung berbagai dimensi penting. Saat ini masyarakat cenderung memperhatikan kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya. "Belum soal makan yang sehat," ujarnya.

Soal pangan ini, kata dia, juga tak bisa lepas dari konteks masyarakat saat itu. Perubahan yang terjadi tak lepas dari kondisi sosial yang melingkupinya. "Setiap masa punya konteksnya yang terlihat di (pemberitaan) media," katanya.

Oleh karenanya, Pikiran Rakyat diharapkan bisa turut serta menyumbangkan berbagai informasi yang  telah dikumpulkan selama beberapa dekade. Baik berupa, teks, foto, maupun data lain yang terkait.

Salah seorang anggota tim pembentukan museum ini, Fajar Abadi Ramadhan Dwi Putra mengatakan, museum tersebut harapannya bisa menjadi media center. "Siapa saja yang ingin mengakses pengetahuan tentang kedaulatan pangan masyarakat Sunda ini bisa ke museum. Selain dipajang juga diharapkan ada perpustakaan, kelas, program, dan diskusi. Melibatkan berbagai sumber-sumber," tuturnya.

Budi menambahkan, Pikiran Rakyat merupakan salah satu media yang menaruh perhatian pada isu pertanian yang erat kaitannya dengan pangan. Harapannya, Pikiran Rakyat bisa menjadi mitra dalam mewujudkan museum ini.

Direktur Utama Pikiran Rakyat Perdana Alamsyah menyambut baik rencana ini. Pikiran Rakyat akan berupaya berkontribusi dalam menyediakan informasi yang diperlukan.***

Bagikan: