Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Ujian Nasional 2020 Tetap Digelar, Fungsi Penentu Kelulusan Dikaji

Dhita Seftiawan
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan).*/ANTARA FOTO
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan).*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengaku sedang mengkaji ulang bentuk penyelenggaraan dan fungsi Ujian Nasional (UN). Kendati demikian, khusus tahun depan, UN masih tetap akan digelar dan berbasis komputer.

Pengkajian termasuk membahas apakah UN akan kembali berfungsi sebagai penentu kelulusan atau tidak.

Ia mengatakan, pengkajian UN dilakukan dengan para guru dari beragam organisasi profesi guru, pakar pendidikan dan pemangku kepentingan di Kemendikbud. Komunitas pendidikan dan perwakilan masyarakat juga ikut memberi masukan kepada Nadiem. Ia membentuk tim khusus untuk mengkaji UN dan zonasi yang tahun depan akan disempurnakan.

"Fungsi dan penyelenggaraan UN sama seperti zonasi, sedang kami kaji. Pendapat dari para guru dan orang tua mengenai UN sedang kami kaji," kata Nadiem di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 6 November 2019.

Mantan Mendikbud Muhadjir Effendy saat masa tugasnya akan berakhir sempat mengeluarkan wacana mengembalikan fungsi UN. Yakni, sebagai penentu kelulusan. Pasalnya, dalam 3 tahun terakhir, fungsi UN hanya untuk memetakan mutu sekolah. Muhadjir menegaskan, UN bisa menjadi penentu kelulusan dengan catatan penyelenggaraannya sudah semua berbasis komputer. "Saya belum mengambil keputusan apa-apa," kata Nadiem menyikapi wacana yang disebutkan Muhadjir.

Fungsi Ujian Nasional 

Pada tahun lalu, Kemendikbud memperluas fungsi Ujian Nasional yang setiap tahun diselenggarakan pada jenjang SMP/SMA/SMK sederajat. Kendati sudah tak berfungsi sebagai penentu kelulusan, UN dipakai untuk memetakan beragam faktor yang mempengaruhi kualitas siswa melalui mekanisme pengisian angket.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan  Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan, 91% pelaksanaan UN tahun lalu berbasis komputer. Menurut dia, UN tidak hanya penting untuk menilai aspek kognitif siswa. Tetapi juga aspek nonkognitif yang banyak dipengaruhi lingkungan keluarga.

“Melalui angket siswa diharapkan informasi tersebut akan memberikan analisa yang komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi capaian siswa di luar materi ujian. Background bagaimana kita dapat mengetahui kesiapan dan kemampuan siswa pada saat UN bisa ditelusuri antara lain dengan melihat kemampuan ekonomi keluarga siswa tersebut,” ujar Totok.

Ia mengatakan, hasil UN dapat dijadikan rujukan bagi dinas pendidikan dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kompetensi guru per mata pelajaran. Dengan demikian, para guru tidak akan lagi dilatih secara umum.

“Kalau ternyata di kota A nilai UN mata pelajaran matematika jelek, ya gurunya yang dilatih adalah guru mata pelajaran tersebut. Siswa akan mengisi angket setelah menyelesaikan UN. Ada 5 jenis angket, dan setiap siswa hanya mengerjakan satu jenis angket saja,” katanya.

Penyelenggaraan UN tahun lalu diikuti oleh 8.259.581 siswa dari 103.000 satuan pendidikan. Sebanyak 7.507.116 UN berbasis komputer dan sisanya melaksanakan UN berbasis kerta pensil. Totok menyatakan, penyelenggaraan UNBK menaikan indeks integritas sekolah.***

Bagikan: