Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Sepak Bola Tak Cukup Andalkan Kaki

Catur Ratna Wulandari
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

SEPAK bola modern tak cukup mengandalkan kaki. Kecerdasan pemain turut menentukan kepiawaiannya mengolah bola di lapangan. Kesadaran itu membuat remaja yang tergabung di Tim Nasional Pelajar U-15 tetap sekolah di tengah padatnya jadwal latihan setiap hari.

Richardo Youwee (15) bersama rekan-rekannya setiap hari mengikuti program latihan mulai pukul 06.00. Sesi latihan pertama berakhir pukul 09.00. Setelah istirahat, sesi latihan dimulai lagi pada sore hari. Di jam-jam antara dua sesi latihan itu ia gunakan pula untuk belajar.

"Kalau Kamis ada guru datang untuk belajar bersama," kata Richardo ditemui di SMA Negeri 4 Bandung, Selasa, 5 November 2019.

Ia dan teman-temannya paling senang belajar di Hari Sabtu. Sebab mereka belajar di sekolah. Pada hari itu mereka seperti anak pelajar SMA pada umumnya. Belajar di kelas bertemu dengan teman-teman lain, bukan hanya rekan setimnya.

Di antara anggota Timnas Pelajar ini, 16 diantaranya kini tercatat sebagai siswa kelas X SMAN 4 Bandung. Sementara empat orang lainnya menempuh pendidikan di SMPN 51 Bandung.

Remaja yang rata-rata berusia 15 tahun itu datang dari berbagai daerah, sedikitnya 13 provinsi, termasuk Aceh, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku Utara, NTB, Papua, dan Papua Barat. Mereka merupakan hasil seleksi nasional untuk memperkuat Timnas Pelajar U-15.

Semula tim ini dibentuk khusus untuk mengikuti ajang IberCup, sebuah turnamen sepak bola internasional khusus untuk anak muda. Tahun ini turnamen digelar di Portugal. Mereka berhasil menggondol posisi ketiga dan mendapat tiket untuk berlaga di IberCupElite. Kompetisi yang akan diikuti oleh klub-klub profesional dunia itu akan digelar di Portugal pada April 2020.

Manajer Timnas Pelajar U-15 Ray Manurung mengatakan, sebenarnya tugasnya mengasuh tim ini selesai setrlah IberCup usai. Tapi dengan tiket itu, ia memutuskan untuk melanjutkan pembinaan anak-anak ini. "Sepulang dari sana mereka bertanya kami bagaimana ini? Apa harus kembali pulang dan enggak main bola? Akhirnya kami putuskan melanjutkan tim ini sebagai tim mandiri," katanya.

Ray meyakini, kemampuan di lapangan tak cukup hanya pembinaan sebulan dua bulan. Sementara tim-tim pesaing disiapkan matang bertahun-tahun. Ia kemudian menjajal konsep baru pembinaan sepak bola.

Mereka dipusatkan di asrama di Bandung. Mereka mendapat serangkaian program latihan. Tak hanya untuk IberCup Elite saja, tapi juga menyiapkan mereka untuk menjadi pemain bola profesional. "Harapannya mereka bisa diambil tim-tim Eropa," ujar Ray.

Ucapannya itu bukan isapan jempol. Selama bertanding di Portugal, sudah ada lima pemain yang didekati club dari Inggris. Di ajang internasional di Bali, empat dari lima gelar pemain terbaik juga digondol pemain Indonesia. Potensi itu yang tak ingin dilewatkan oleh Ray. Oleh karenanya, ia mengupayakan semua jaringan untuk membantu program ini. Beruntung, Gubernur Ridwan Kamil berkenan meminjamkan lapangan yang bisa dipakai gratis.

Tapi latihan saja tidak cukup. Mereka harus tetap bersekolah. "Sepak bola tidak lagi dari kaki ke kepala, tapi dari kepala ke kaki," katanya.

Kecerdasan pemain ikut menentukan kecerdikan mereka di lapangan. Di Eropa, permainan bola kental dengan taktik strategi. Pemain piawai menguasai bola. Ray mengatakan, jika ingin dilirik club Eropa, mereka harus menguasai permainan cerdas.

"Mereka juga harus menguasai bahasa asing, setidaknya Bahasa Inggris," ujarnya.

Itu sebabnya, sekolah menjadi bagian penting dari program ini. Menggandeng SMAN 4 dan SMPN 51, para pemain tetap bisa bersekolah.

Belajar gratis

Kepala Sekolah SMAN 4 Bandung Andang Segara tak ragu memberi mereka kesempatan belajar gratis di sekolahnya. Ia tahu betul anak-anak dengan bakat olah raga ini punya kebutuhan khusus dalam pembelajaran. Saat menjabat sebagai Kepala Sekolah SMAN 25 Bandung, banyak pemain sepak bola dari Klub UNI menjadi anak didiknya di sana.

"Tapi waktu itu ikut sekolah reguler. Banyak hambatannya ketika dia dituntut latihan, sekolah juga. Di situ kemudian jadi dilema," katanya.

Untungnya, sejak tahu lalu PemprovJabar membuka program Sekolah Terbuka Juara. Sekolah Terbuka ini ada di beberapa SMA negeri, salah satunya SMAN 4 Bandung. Dengan program ini, kegiatan pembelajaran bisa harmonis dengan jadwal latihan.

"Kami menyiapkan guru kunjung. Materi juga disediakan baik berupa buku mapun file digital. Tugas juga bisa lewat file tinggal kirim," kata Andang.

Fleksibilitas ini, kata dia, bisa memoticasi atlet. Mereka tak merasa dipersulit atau dibebani dengan rutinitas sekolah. "Saya selalu bilang, berpretasi akademis, jadi juara di lapangan," katanya.

Secara keseluruhan sudah ada 246 siswa SMA terbuka di SMAN 4. Sekolah mengalokasikan Rp 500 juta setiap tahun untuk program ini ditanbah BOS dari pemerintah sebesar Rp 1.400.000 per siswa setiap tahun. Peserta didik tak mengeluarkan biaya sepeser pun.

Mandiri

Jauh dari keluarga, pemain bola yang masih belia ini dituntut mandiri. Jika di rumah ada keluarga yang membantu menyiapkan keperluan sehari-hari, di asrama mereka mengerjakannya sendiri.

"Enggak apa-apa dijalani saja, demi cita-cita," kata Muhammad Bahari Kurnia (15) yang ingin bisa bermain di Barcelona FC.

Masia Yulius Emzen (15) juga sudah siap menjalani tahun-tahun pembinaan ini. Di bawah asuhan pelatih Rochy Putiray dan tim, ia berharap bisa main di Real Madrid. "Kemarin sempat lihat di sana (Stadion Santiago Barnabeu), ingin cepat bisa main di sana," tuturnya.

Pengalaman main di turnamen internasional, mereka menyadari, bukan sepak bola saja yang harus mereka kuasai. "Kami harus bisa Bahasa Inggris dan Spanyol. Setidaknya Bahasa Inggris," kata Tabernacle Manurung (15).

Tak mudah, tapi juga mustahil. "Yang penting berusaha dan berdoa," ujar Bahari.***

Bagikan: