Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 23.1 ° C

Penamaan Tempat Kekinian Membuat Masyarakat Tak Kenal Karakter Daerah

Catur Ratna Wulandari
PENULIS buku Toponimi Susur Galur Nama Tempat di Jabar, T. Bachtiar memaparkan isi bukunya, pada acara bedah buku di Galeri Soemardja ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Rabu 06 November 2019. Pada paparannya, T. Bachtiar menjelaskan asal-usul nama daerah di Jawa Barat.*/ADE BAYU INDRA/PR
PENULIS buku Toponimi Susur Galur Nama Tempat di Jabar, T. Bachtiar memaparkan isi bukunya, pada acara bedah buku di Galeri Soemardja ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Rabu 06 November 2019. Pada paparannya, T. Bachtiar menjelaskan asal-usul nama daerah di Jawa Barat.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Pemerintah punya kecenderungan untuk menamai pusat-pusat pertumbuhan baru tanpa memperhatikan kondisi alam serta latar belakang sosial budaya setempat. Masyarakat jadi tidak tahu karakter daerah tersebut.

"Ada yang menamai tempat karena di situ dipasang papan iklan yang besar. Misalnya, Walini. Akhirnya stasiun nanti namanya Walini. Padahal itu merk dan di dokumen pakai nama itu," kata penulis buku TOPONIMI Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat T. Bachtiar usai bedah buku di Galeri Soemardja, ITB, Rabu 6 November 2019.

Ia mengatakan, daerah yang kini disebust sebagai Walini itu berdasarkan toponiminya bernama Panglejar yang artinya tempat yang membuat bahagia. Sayangnya pemerintah justru tidak melestarikan nama tersebut.

Bukan kali pertama pemerintah mengubah penamaan seperti ini. Bachtiar mengatakan, pemerintah Orde Baru sudah melakukan pengubahan itu. "Biasanya menambahkan kata Jaya di belakangnya, misalnya Mekar Jaya," katanya.

Belakangan beberapa tempat dinamai dengan istilah asing atau istilah yang dinilai kekinian. Tak hanya pemerintah, masyarakat juga melakukan hal serupa. Tidak heran jika toponimi tak lagi jadi rujukan nama-nama perumahan atau lokasi-lokasi baru lainnya. "Ingin kelihatan keren tapi jadi ahistoris," ujarnya.

ADE BAYU INDRA/PR

Toponimi untuk mitigasi bencana

Bachtiar mengatakan, toponimi tak hanya bermanfaat untuk mengetahui asal-usul penamaan tempat. Lebih jauh, toponimi juga berguna sebagai mitigasi bencana. Masyarakat akan memahami potensi bencana dan bagaimana menyiapkan diri dari mengetahui karakter daerah setempat. Misalnya saja Lemahnendeut yang asalnya karena daerah tersebut berada di dasar cekungan bandung yang datar karena endapan danau purba. Sehingga tanahnya bersifat "nendeut" atau yang bisa menjadi lebih rendah jika ditekan.

Bachtiar menjelaskan, nama-nama tempat di Jawa Barat tak lepas dari proses alam yang terjadi, kekayaan hayati, kekayaan fauna.

Misalnya Gunung Tangkubanparahu yang merupakan gunung api aktif. Gunung itu terlihat seperti perahu terbalik jika dilihat dari arah selatan. Belanda memanfaatkannya dengan membangun Gedung Sate yang menghadap ke gunung itu. Bentuknya bisa terlihat demikian karena dua kawah, Kawah Upas dan Kawah Ratu berjajar fengan arah barat-timur.

"Sayangnya sering ditulis Tangkubanperahu atau Tangkubanprau," katanya.

Beberapa tempat dinamai sesuai nama tanaman. Buahbatu, Cipinang, Cijambe, Kalipucung merujuk pada satu tanaman yang sama yaitu, pohon pinang. Sementara Batununggal berasal dari pohon pinang yang sendiri. Batu diartikan sebagai karakteristik buah pinang yang sudah kering dan mengeras seperti batu.

Beberapa tempat dinamai dari binatang. Misalnya Ciharegeum yang diambil dari suara binatang. Sementara Cimaung, Cimacan diambil dari wujud binatang itu. Ada juga Leuwigajah yang berarti tempat mandi gajah.

Pegiat Rumah Baca Buku Sunda Rachmah Firstriani mengatakan, perkembangan sebuah tempat harusnya didasari dari masyarakatnya. Masyarakat dahulu amat responsif dengan lingkungannya. "Kalau sekarang sudah berkurang. Tak kenal, maka tak sayang," katanya.

Ia mengatakan, penggunaan bahasa asing dianggap sebagai mitos yang bermaksud memunculkan kesan eksklusif dan gaya hidup tertentu. "Mitos dibangun pada dasarnya dengan menggunakan bahasa asing akan melanggengkan anggapan bahwa itu lebih keren, lebih bergengsi, dan lebih modern," tuturnya.***

Bagikan: