Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Gawai Merusak Budaya Baca

Dhita Seftiawan
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

JAKARTA, (PR).- Gawai dan internet dapat merusak budaya membaca dan menulis siswa jika orang tua salah dalam menerapkan pola asuh terhadap anak. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyartakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Harris Iskandar menegaskan, kebiasaan mengakses gawai, baik yang terhubung dengan internet atau tidak, menjadi ancaman terbesar bagi masa depan anak abad 21.

Ia menuturkan, berdasarkan kajian dari World Economic Forum, gawai dan internet menjadi “musuh” bersama masyarakat Eropa dan Amerika. Pasalnya, gawai dan internet terbukti dapat menjadi candu yang berbahaya bagi anak usia dini. Menjadi ironi karena di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, mayoritas orang tua memilih membebaskan anaknya menggunakan gawai dan mengakses internet.

“Padahal, para orang tua di silicon valley, baru membolehkan anaknya menggunakan gawai dan mengakses internet setelah 17 tahun. Bill Gates bahkan tidak memasang internet di rumahnya. Kesimpulan dari penelitian yang dirilis world economic forum, gawai dan internet harus dijauhkan dari anak usia dini,” ucap Harris dalam Pencanangan Buku Literasi dan Lokakarya Gerakan Literasi Nasional di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Senin, 4 November 2019 malam.

Ia menjelaskan, menghindarkan anak dari gawai dan internet menjadi tugas berat orang tua. Pasalnya, di tengah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, internet masuk ke segala sendi kehidupan sosial masyarakat. Hanya kebijaksanaan dan kepedulian orang tua yang dapat membentengi anaknya agar tidak terpapar dampak negatif era revolusi industri 4.0.

“Susah memang. Bahkan banyak orang tua yang membelikan henfon berikut pulsa internet untuk anaknya. Dengan alasan agar anak melek teknologi atau tidak rewel. Padahal itu salah, dampaknya buruk untuk anak. Saya pribadi punya anak yang satu kutu buku dan yang satu lagi susah sekali dijauhkan dari gawai,” katanya.

Gerakan literasi nasional

Untuk menumbuhkan budaya membaca, Kemendikbud terus mendorong implementasi Gerakan Literasi Nasional yang digagas sejak 2016. Mendikbud Nadiem Anmar Makarim menuturkan, sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai praaksara kecakapan hidup abad 21.

Menurut dia, GLN akan berjalan sesuai target jika sistem pendidikan sudah terintegrasi. Mulai mulai dari keluarga, sekolah, sampai masyarakat. Masyarakat Indonesia sedikitnya harus mengenal 6 jenis literasi dasar. 

Yaitu literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Ia menjelaskan, dalam sejarah peradaban manusia, membaca dan menulis merupakan operasi yang dikenal paling awalyang berguna besar dalam kehidupan sehari-hari.

“Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan. Dengan memiliki kemampuan membaca dan menulis seseorang dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik,” kata Nadiem. 

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud Dadang Sunendar menambahkan, Kemendikbud telah mencetak dan segera mendistribusikan ratusan ribu buku ke 48.000 alamat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemerataan literasi di Indonesia.

“Pengiriman buku ke daerah 3T sesuai dengan amanat Undang-undang (UU) Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan (Sisbuk). Khususnya untuk menumbuhkan literasi masyarakat dan membantu wilayah-wilayah yang sulit dijangkau,” kata Dadang.***

Bagikan: