Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 23.1 ° C

Ditanya Soal Radikalisme, Ini Jawaban Calon Rektor ITB

Catur Ratna Wulandari
CALON Rektor ITB (dari kanan) Jaka Sembiring, Kadarsyah Suryadi, dan Reini D. Wirahadikusuma memperkenalkan dirinya masing-masing, pada Sidang Terbuka Majelis Wali Amanat ITB", di Kampus ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Sabtu, 2 November 2019. Perkenalan Carek ITB itu, mengangkat tema "Ngariung Bareng Calon Rektor ITB".*/ADE BAYU INDRA/PR
CALON Rektor ITB (dari kanan) Jaka Sembiring, Kadarsyah Suryadi, dan Reini D. Wirahadikusuma memperkenalkan dirinya masing-masing, pada Sidang Terbuka Majelis Wali Amanat ITB", di Kampus ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Sabtu, 2 November 2019. Perkenalan Carek ITB itu, mengangkat tema "Ngariung Bareng Calon Rektor ITB".*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Setelah Senat Akademik memutuskan tiga Calon Rektor ITB, ketiga kandidat mengikuti ekspos publik yang bertajuk Ngariung Bareng Calon Rektor ITB, Sabtu, 2 November 2019, di Kampus ITB. Isu soal radikalisme menjadi salah satu pertanyaan dalam acara itu.

Ketiga calon rektor tersebut ialah Jaka Sembiring (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika), Kadarsyah Suryadi (Fakultas Teknologi Industri, Rektor ITB 2015-2020), dan Reini D. Wirahadikusuma (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan).

Meski acara ini sebenarnya adalah debat terbuka Calon Rektor ITB, acara ini digelar santai. Setelah diberi kesempatan memperkenalkan diri dan memaparkan visi misi, ketiganya diminta menjawab pertanyaan dari moderator. Pertanyaan dengan jawaban setuju atau tidak setuju. Kemudian masing-masing menjelaskan alasannya. Penonton yang berasal dari civitas akademika ITB dan masyarakat luas juga diberi kesempatan untuk menanggapi dan bertanya langsung kepada kandidat.

Salah satu pertanyaan yang harus dijawab kandidat terkait dengan isu radikalisme. Para calon rektor diminta pendapatnya, apakah isu radikalisme ini nyata di ITB.

Jaka Sembiring mengangkat papan merah bertanda jempol terbalik yang berarti tidak setuju. Menurut Jaka, sebenarnya pertanyaan ini tak bisa dinawab dengan setuju atau tidak setuju saja. Ia mengatakan, urusan ini harus dibagi menjadi hard (keras) dan soft (lunak).

Cara keras, kata Jaka, menangani urusan ini seusai aturan yang berlaku. Sementara cara lunak dilakukan dengan membangun jati diri ITB.

"ITB sebagai engine of innovation, biar punya jati diri. Orang bilang apa saja, kita bica inovasi. ITB ini lahan ya g berkualitas, siapapun akan menggunakan lahan ini untuk kepentingan apapun. Selama tidak punya jati diti yang dibawa ke mana-mana, kita akan dipermainkan," tuturnya.

Kadarsyah Suryadi juga mengangkat papan merah tanda tidak setuju. Ia mengatakan, ITB sudah mengundang banyak tamu untum berbicara di forum-forum ITB, seperti di kuliah umum. Termasuk Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). "Ketua BNPT mengatakan tidak ada radikalisme di ITB," ucapnya.

Ia mengatakan, baik mahasiswa, dosen, juga tenaga kependidikan, twlah diambil sumpahnya ketika masuk ITB. Demikian pula para wisudawan, mereka juga mengucap sumpah serupa yaitu bersumpah untuk bersetia kepada Pancasila dan NKRI.

"Kalaupun ada yang menyimpang itu bukan ITB, itu oknum. ITB punya dignity, punya sistem dengan perangkat yang ada. Jangan sampai salah persepsi karena fitnah," tutur Kadarsyah.

Reini D. Wirahadikusuma mengacungkan papan berwarna hijau bertanda jempol. Ia mengatakan, secara sistem tentu tidak ada radikalisme di ITB. Namun menurutnya, perlu kesiagaan mengatasi persoalan itu.

"Kita lebih baik bersiaga. Kontroversi ada atau tidak ada, harus dikaji kembali. Kalau ada harus ditangani. Kalau tidak ada harus dicegah," katanya.

Kewaspadaan itu, kata dia, perlu demi kenyamanan semua warga ITB. Ia mengatakan, isu radikalisme bisa terjadi di mana-mana, bukan hanya ITB. Perlu kewaspadaan sebagai pencegahan.

Isu ini ditanggapi oleh seorang pengajar agama juga kewarganegaraan di ITB, Asep Zaenal Ausop. Menurut pengamatannya selama ini, tudingan radikalisme di ITB tidak terbukti. "Sama saja apakah kalau ada orang yang korupsi apa kemudian ITn disebut kampus koruptor? Kan tidak. Tidak signifikan jumlahnya. Tidak ada radikalisme di ITB," katanya.

Ia mengatakan, militansi mahasiswa itu bukan sebuah sikap anti Pancasila atau anti pemerintah. Ia menitip pesan agar rektor terpilih tidak melarang aksi mahasiswa. "Biarkan saja mahasiswa aksi. Jangan sampai nanti rektor melarang ya," ujarnya.***

Bagikan: