Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Nadiem Makarim Menteri Pendidikan, Guru Pesimistis Namun Pengamat Optimistis

Dhita Seftiawan
Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.*/REUTERS
Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Ikatan Guru Indonesia pesimistis dengan kompetensi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim. Pasalnya, menteri berusia 35 tahun itu dianggap bukan orang yang akrab dengan dunia pendidikan. Nadiem adalah praktisi yang sukses membangun bisnis berbasis dalam jaringan, bukan akademisi atau birokrat yang berkarier di sektor pendidikan.

Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim menyangsikan Nadiem bisa dengan cepat menyelesaikan beragam masalah guru. Mulai dari kesejahteraan hingga kompetensi guru yang saat ini masih rendah. Kendati demikian, Ramli berharap Nadiem mampu dengan cepat beradaptasi dengan kultur di Kemendikbud sehingga bisa berkerja sama dalam memberikan solusi.
 
“Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran Pak Jokowi, ketika menunjuk Nadiem Anwar Makarim. Pebisnis transportasi online memimpin sebuah kementerian yang dipenuhi orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi,” ujar Ramli dihubungi di Jakarta, Rabu, 13 Oktober 2019.

Ia menjelaskan, Nadiem memang alumni Brown University Amerika Serikat dan juga alumni Harvard Business School Amerika Serikat. Kendati demikian, kompetensi Nadiem bukan pada bidang membangun pendidikan. Menurut dia, Nadiem hampir bisa dipastikan tidak terlalu mengetahui masalah-masalah fundamental yang menggelayuti dunia pendidikan nasional.

“Nadiem memang sukses mengelola bahkan menghidupi ribuan bahkan jutaan manusia sebagai driver dan membantu memindahkan orang, makanan atau barang dalam jumlah yang sangat banyak dalam setiap harinya tapi bisa apa Nadiem menangani dunia pendidikan kita yang payah ini??,” katanya.

Ia berharap, Nadiem bisa belajar dengan cepat dan menemukan solusi masalah kesejahteraan guru. Meningkatkan mutu pendidikan di bidang matematika, sains dan membangun kultur membaca. “Kompetensi generasi bangsa di bidang matematika, reading dan sains berada pada level 0-2 dan dicap bangsa Indoneaia baru bisa menghadapi abad 21 setelah 1000 tahun mendatang. Ini tantangan terbesar Mendikbud baru,” ujarnya.

Berbeda pandangan dengan Ramli, Pengamat Pendidikan dari Center of Education Regulation and Development Analysis Indra Charismiadji menilai keputusan Jokowi sudah tepat. Menurut dia, sebagai generasi milenials, wawasan Nadiem jauh meloncat ke masa depan. Nadiem mengetahui jenis-jenis pertarungan di masa depan yang harus dihadapi generasi bangsa.

Ia menegaskan, meskipun bukan seorang birokrat dan pakar pendidikan, Nadiem adalah pemimpin yang sukses. Dengan demikian, kolaborasi antara akademisi dan praktisi menjadi komposisi yang pas untuk memberikan warna berbeda di dunia pendidikan.

“Saya melihat Nadiem super kompeten. Dia akan mengedepankan pendekatan berbasais teknologi untuk menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Kami para pegiat pendidikan akan mendukung beliau jadi 'driver' Kemendikbud. Kami siap membantu dan memberi berbagai informasi yang dibutuhkan agar pendidikan Indonesia makin maju,” ujar Indra.

Indra berharap, Nadiem siap menghadapi kompleksnya persoalan pendidikan di Indonesia. Pasalnya, memimpin sebuah kementerian dengan segala birokrasinya tentu hal yang sangat berbeda dengan memimpin perusahaan. Nadiem harus bisa mendobrak kultur birokratif yang sudah terbangun kental di Kemendikbud. “Beliau akan menghadapi kondisi yang berlawanan dengan tim Gojek yang kreatif, informal dan kekinian,” katanya.

Sementara itu, Nadiem mengaku dalam 100 hari ke depan akan lebih banyak mendengar dan melihat untuk mempelajari sistem kerja yang sudah dibangun di Kemendikbud. Berdialog dengan para pakar pendidikan dan pejabat Kemendikbud. Ia menegaskan, dengan cara begitu, Kemendikbud di bawah kepemimpinannya akan melahirkan banyak solusi.

“Sudah pasti peran teknologi akan terlibat. Dalam bentuk apanya belum pasti, yang penting kami mulai bukan dari aksi. Saya sebaiknya belajar dulu dari semua stakeholder yang ada. Tapi tidak akan makan waktu lama, saya pembelajar yang cepat,” ujar Nadiem saat serah terima jabatan dengan Muhadjir Effendy.***

Bagikan: