Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 22.1 ° C

Mohamad Reza Nurrahman, Anak Sopir Lulus Cumlaude dari ITB

Catur Ratna Wulandari
REZZA Nurahman pada Sabtu, 19 Oktober 2019 diwisuda dengan IPK 3,98 dengan predikat cumlaude. Prestasi ini membayar lunas jerih payahnya dan keluarga yang berliku.*/DOK E-Learning ITB
REZZA Nurahman pada Sabtu, 19 Oktober 2019 diwisuda dengan IPK 3,98 dengan predikat cumlaude. Prestasi ini membayar lunas jerih payahnya dan keluarga yang berliku.*/DOK E-Learning ITB

SAAT memulai pendidikannya di Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung (ITB), Mohamad Reza Nurrahman (22) pernah menuliskan mimpinya. Salah satunya, ia ingin lulus dengan IPK di atas 3,5. Sabtu, 19 Oktober 2019, ia diwisuda dengan IPK 3,98 dengan predikat cumlaude. Prestasi ini membayar lunas jerih payahnya dan keluarga yang berliku.

Reza merupakan putra kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Wawan Sukendar (55) dan Ika Winarti (48). Ayahnya seorang sopir pribadi, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Keterbatasan ekonomi tak menutup kesempatan Reza menyelesaikan sekolah hingga pendidikan tinggi.

Sejak di bangku SMP, Reza sudah bertekad akan melanjutkan pendidikan ke Fisika ITB. Tak seperti murid kebanyakan, Reza begitu mencintai Fisika. Sejak duduk di kelas 7 SMP, ia asik mendalami Fisika. Ia sempat mewakili almamaternya SMP Negeri 1 Batujajar untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) sampai ke tingkat provinsi.

Prestasi akademiknya juga melesat saat menyelesaikan sekolah SMA Darul Falah, Kabupaten Bandung Barat. Ia menyabet gelar juara OSN hingga tingkat provinsi. Di tingkat nasional ia meraih juara dua.

Reza menamatkan pendidikan di sekolah itu dengan jalur beasiswa. Ia siswa pindahan di kelas 11. "Setelah ibu ketemu dengan kepala sekolah, katanya semua seragam dan semua perlengkapan sudah siap. Saya tinggal belajar yang baik," kata Reza kepada PR, Senin, 21 Oktober 2019.

Kepindahannya ke SMA itu lantaran di sekolah sebelumnya ia tak mendapat dukungan untuk mengembangkan prestasinya di bidang Fisika. Sebelumnya ia lolos seleksi Asia Physics Olympiad. Ia harus mengikuti pelatihan dan karantina selama sebulan di Surya Institute di Tangerang. Delapan terbaik akan menjadi wakil Indonesia di kompetisi yang digelar di Singapura.

Sayangnya, ia tak mendapat dukungan dari sekolahnya. Sekolah justru mengingatkan Reza juga orangtuanya jika nekad meninggalkan sekolah untuk ikut karantina, maka ia bisa tidak naik sekolah. Sekolah juga tak bisa mengantar maupun membantu biaya perjalanan Reza ke Tangerang.

"Untungnya atasan bapak saya juga mau ke Tangerang, akhirnya saya nebeng ke sana," tuturnya.

Upayanya terhenti karena ia berada di urutan 9. Ia gagal ke Singapura. Merasa tak medapat dukungan yang ia perlukan, orangtua memutuskan memindahkan Reza ke Darul Falah.

Dengan dukungan penuh di sana ia bisa belajar dengan tenang. Akhirnya, melalui program bidik misi ia bisa melanjutkan sekolah ke ITB.

"Suasana akademik di ITB ini sangat menyenangkan. Temannya baik-baik. Kalau orang bilang ITB isinya orang-orang berada, ya saya tidak berpikir ke sana. Saya fokus pada diri sendiri," tuturnya.

Di ITB, Reza tak berhenti berprestasi. Ia meraih medali Perak ONMIPA tahun 2017 dan 2018, Juara 2 OSN Mahasiswa Nasional Tahun 2017, dan menjadi finalis mahasiswa berprestasi FMIPA tahun 2018. Ia juga mendapat kesempatan magang di KAIST selama tiga bulan. 

Sederet prestasi itu membuatnya terpilih untuk memberikan sambutan mewakili wisudawan yang lain. Karena tugasnya itu, orangtuanya ditempatkan di tempat khusus bersama tamu penting lainnya.

"Saya senang sekali. Keinginan saya untuk mengangkat derajat orangtua saya terwujud," ujarnya.

Diperingatkan sejak lama

Wawan dan Ika sudah diperingatkan sejak lama soal kecerdasan anaknya. Guru TK Reza pernah mengatakan, orangtua harus siap dengan jawaban karen Reza punya segudang pertanyaan. Ia tak akan berhenti sampai mendapat jawaban yang memuaskan.

Reza punya semangat belajar yang tinggi. "Dia ingin sekolah yang bagus," katanya. Sebagai seorang sopir, penghasilan Wawan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia sempat menangis karena khawatir tak mampu memenuhi keinginan Reza. Tapi berkat kecerdasannya, Reza selalu mendapat beasiswa. Mulai SMP, SMA hingga kuliah.

"Kuliah bukannya saya mengeluarkan uang, malah dia membantu adiknya, kadang mamanya juga. Dari hasil membimbing olimpiade sains, dia bisa bantu keluarga," tuturnya.

Ia bersyukur anaknya tak menyerah lantaran kondisi keuangan yang pas-pasan. Sejak SMP, dinding kamarnya yang sempit penuh coretan bertuliskan: ITB. "Saya mengira itu hanya keinginan anak-anak," ujarnya.

Namun Reza berhasil membuktikan mimpinya sendiri. Orangtuanya tak henti bersyukur dan bangga, putranya jadi orang pertama di keluarganya yang bisa lulus cumlaude dari ITB.

Meniti karir

Gelar sarjana sudah di tangan. Selanjutnya, ia ingin meniti karir sebagai peneliti dan dosen. Setahun ke depan ia masih akan menyelesaikan proyek penelitian bersama dosennya. Penitian tentang metamaterial ini diharapkan bisa dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional. "Dari publikasi itu saya mau mendaftar S2 di tempat yang lebih baik lagi," katanya.

Bagi Reza, pencapaiannya ini berkat doa orangtua. "Meski rasanya mustahil, Allah yang menentukan. Kalaupun tidak sesuai, Allah akan memberikan yang terbaik sehingga kita lebih tentram. Niatkan agar bermanfaat untuk orang lain, maka Allah akan memberikan jalan," ucapnya.

Reza telah membuktikan, keterbatasan ekonomi bukan hambatan untuk meraih cita-cita. Ia hanya perlu berusaha sebaik mungkin. Maka, tak perlu takut untuk bercita-cita setinggi mungkin.***

Bagikan: