Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 21.3 ° C

Kemendikbud Kirim 94 Guru ke Perbatasan Indonesia-Malaysia

Dhita Seftiawan
ILUSTRASI guru.*/DOK PR
ILUSTRASI guru.*/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengirim 94 guru ke wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Mereka akan mendidik sekitar 50 ribu anak usia sekolah di tempat kegiatan belajar (TKB) yang dibangun pemerintah. Para guru lulusan S1 dan D4 itu akan mengabdi selama dua tahun dengan gaji Rp19,5 juta per bulan.

Mendikbud, Muhadjir Effendy, mengatakan, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia. Mengirim guru dan membangun TKB merupakan kewajiban pemerintah dalam memenuhi hak seluruh WNI untuk mendapat pendidikan yang baik.

Ia menuturkan, sebagian besar anak PMI di wilayah perbatasan Tawau, Kinabalu, dan Kuching bekerja membantu orang tuanya di perkebunan sawit milik Malaysia. Kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan karena semua anak Indonesia wajib mendapatkan pendidikan minimal 12 tahun.

''Ini sebagai komitmen Pak Jokowi untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Guru-guru ini harus bisa memainkan multi peran. Tidak hanya sebagai guru mengajar namun juga memberi inspirasi dan menanamkan nasionalisme. Para guru diharapkan bisa membangkitkan minat dan semangat anak didiknya agar mau lanjut kuliah,” ujar Muhadjir di kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano, mengungkapkan, sebanyak 94 guru yang dikirim tersebut merupakan hasil seleksi panjang yang digelar Kemendikbud, dari total pendaftar sebanyak 2.932. Seleksi melibatkan delapan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).

“Kami kan punya anak-anak di Malaysia, Serawak, yang bekerja di ladang. Ini ada upaya pemerintah karena biar bagaimanapun mereka juga anak Indonesia yang perlu dibuatkan layanan pendidikan,” katanya.

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.*/ANTARA

Guru menjadi motivator dan menanamkan nasionalisme

Berdasarkan data dari Kemendikbud per September 2019, jumlah peserta didik dan TKB tersebar di tiga titik. Di KJRI Kota Kinabalu, ada 10.136 siswa di 152 TKB, KJRI Tawau ada 6.170 siswa di 86 TKB, sedangkan di KJRI Kuching ada 2.217 siswa di 63 TKB.

Supriano mengatakan, setelah dua tahun kontrak habis, mereka yang ingin memperpanjang pengabdian harus kembali mengikuti seleksi. Para guru pun dibekali kemampuan pendidikan karakter serta prinsip nasionalisme yang akan ditularkan ke siswa sebelum mengajar di lapangan. 

“Selain mengajar juga memotivasi (anak) bahwa pendidikan itu penting. Sehingga anak pun mau melanjutkan sekolah hingga kuliah,” ujarnya.

Ia menuturkan, program tersebut berjalan sejak 2010 dengan total guru yang sudah dikirim sebanyak 694 orang. Berkat guru di perbatasan, sekitar 18.000 anak PMI kini berhasil didorong untuk mau sekolah. Menurut dia, tantangan terbesar yang dihadapi para guru adalah meyakinkan para PMI untuk mengizinkan anaknya ke TKB.

“Anak umur 13 tahun sudah bisa bekerja di ladang sawit sehingga jika anak sekolah maka mereka akan sulit membantu orang tuanya di ladang.  Jadi dia (guru) berguna untuk memberikan motivasi dan kesadaran orang tua bahwa pendidikan itu yang bisa mengubah kemiskinan dan kebodohan,” katanya.***

Bagikan: