Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Sebagian berawan, 22.2 ° C

Menulis Berita Menuntun Berpikir Runtut

Tim Pikiran Rakyat
null
null

BANDUNG, (PR).- Secara tidak disadari pembiasaan menuliskan laporan kegiatan atau program yang dilaksanakan oleh sebuah organisasi atau lembaga, akan menuntun penulis pada pola berpikir runtut dan tepat sasaran. Hal ini dimungkinkan karena dalam teori penulisan berita, seseornag dituntut untuk terampil menentukan isu yang paling penting dan menarik dari sebuah peristiwa atau kegiatan acara.

Demikian dipaparkan oleh Wakil Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat Erwin Kustiman, S.S, S.Sos, M.Ikom saat menjadi pemateri pada Pelatihan Penulisan Berita, Feature, dan Artikel untuk Tenaga Kependidikan di Lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, 16 dan 17 Oktober 2019. Kegiatan yang dilangsungkan di Ruang Senat FK Kedokteran Gedung FK Unpad Jalan Eijkman 38 Kota Bandung itu juga menghadirkan pembicara dosen Fikom Unpad Rinda Aunilah Sirait S.Sos, M.Ikom, dan Dandi Supriadi, S,Sos, MA dengan moderator Manajer Bidang Tata Kelola, Perencanaan dan Data FK Unpad Ani Setiati, S.Si.,M.Stat.

Menurut Erwin Kustiman, diperlukan kemampuan teknis dalam kinerja jurnalistik untuk mengolah suatu realitas menjadi berita yang akan dikonsumsi oleh publik. “Sebab tidak semua realitas sosial itu bisa menjadi berita. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhinya, yang dalam konteks jurnalistik disebut nilai berita (news worthiness). Di samping itu publik juga semakin cerdas membedakan antara realitas sosial dengan realitas media massa,” ungkapnya.

Ia mengatakan keterampilan menyusun berita yang baik ditentukan oleh proses latihan dan praktik menulis secara kontinu. “Keterampilan menyusun naskah berita secara terus-menerus secara alamiah akan mendorong penulisnya untuk berpikir sistematis dan runtut. Selain itu juga dilatih untuk sigap dan cepat dalam bertindak dan mengambil keputusan,” katanya.

Ia mengatakan, sumber ide penulisan bisa berasal dari apa saja, pengalaman keseharian, hasil riset, berita di media massa, serta buku yang telah dibaca. Yang terpenting adalah kemampuan merangkai ide dengan susunan kalimat yang tertib dan efektif.

Rendahnya tradisi membaca  dan kebiasaan berpikir dangkal, kata dia, selalu menyulitkan bagi siapa pun untuk menulis. “Membaca tidak berarti melulu membaca buku. Namun, juga membaca pengalaman, membaca fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Semakin sering keterampilan membaca diasah, semakin banyak bahan yang dapat ditulis. Seseorang yang menulis masalah empirik yang dialami memiliki bobot autentisitas yang tinggi,” ujarnya.

Ibarat menyetir mobil atau belajar berenang, menulis bisa jadi sesuatu yang pada awalnya dirasakan sulit. “Namun, bila sudah biasa dikerjakan akan menjadi mudah. Menulis menjadi pekerjaan yang sangat mudah dan mengasyikkan bagi yang sudah membiasakannya. Jadi, kuncinya adalah kemauan dan motivasi serta memiliki referensi dan pengalaman atas masalah yang ditulis,” ucapnya.***

 

 

Bagikan: