Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Cerah berawan, 26.6 ° C

KBM di Papua Berangsur Normal

Dhita Seftiawan
SEJUMLAH siswa bermain di dalam kelas SMP Negeri 1 Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Rabu, 9 Oktober 2019. Aktivitas di sejumlah sekolah Kota Wamena masih berfokus pada pemulihan trauma pada siswa pascaaksi unjuk rasa yang berujung anarkis pada 23 September 2019 lalu.*/ANTARA FOTO
SEJUMLAH siswa bermain di dalam kelas SMP Negeri 1 Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Rabu, 9 Oktober 2019. Aktivitas di sejumlah sekolah Kota Wamena masih berfokus pada pemulihan trauma pada siswa pascaaksi unjuk rasa yang berujung anarkis pada 23 September 2019 lalu.*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) kembali normal pascakonflik sosial di Wamena, Papua. Kegiatan belajar mengajar di Wamena sempat terhenti karena banyaknya bangunan sekolah yang rusak, dan terjadinya pengungsian para guru dan siswa ke luar Wamena setelah peristiwa tersebut.

Muhadjir mengapresiasi kembali terselenggaranya kegiatan belajar mengajar di beberapa sekolah yang dikunjunginya. Hal ini sejalan dengan instruksi Bupati Jayawijaya, Jhon Robert Banoa, yang menginstruksikan bahwa mulai tanggal 7 Oktober 2019 kegiatan belajar mengajar di Kota Wamena harus sudah dimulai. 

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati atas kerja kerasnya, kerusuhan pada tanggal 23 September sudah bisa diatasi, dan lebih khusus, anak-anak sudah bisa bersekolah seperti biasa," kata Muhadjir saat melakukan kunjungan kerja ke SMP Negeri 2 Wamena, dalam siaran pers Rabu, 16 Oktober 2019.

Ia menekankan bahwa pelayanan pendidikan tidak boleh terhenti di tengah situasi konflik yang terjadi di Wamena dan Nduga, Papua. Dengan demikian, hak anak-anak Papua terhadap layanan pendidikan tetap terpenuhi demi masa depan mereka. 

"Saya minta kalau ada teman-temannya yang belum masuk sekolah harus diajak kembali, terutama dari luar yang masih mengungsi, yang belum tertampung supaya ditampung. Kemudian kalau ada anak dari Wamena yang sekarang keluar juga bersama orang tuanya supaya diajak, diminta balik ke Wamena," ujarnya.

Mendikbud telah berkoordinasi dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk menjamin keselamatan dan keamanan guru, tenaga kependidikan, dan siswa di daerah konflik di Papua. "Insyaallah sudah aman. Kapolres sudah menjamin keadaan di Wamena sudah membaik," katanya.

Rehabilitasi 

Mengenai kondisi sekolah yang rusak, Muhadjir berkomitmen untuk merehabilitasi sekolah-sekolah yang rusak akibat kerusuhan di Wamena untuk menjamin terselenggarannya proses belajar mengajar di sekolah. Di Kota Wamena, dari 50 satuan pendidikan yang ada, 23 di antaranya mengalami kerusakan. 

Sebanyak 5 SD, 10 SMP dan 5 SMA serta 3 SMK mengalami kerusakan ringan dan sedang. Seperti kerusakan pada kaca jendela ruang kelas, pintu, papan nama sekolah. Satu ruangan Kepala SMP YPPK St. Thomas dilaporkan habis dibakar.

Kepala SMPN 2 Wamena Kornae Paragaje mengatakan, pada saat konflik terjadi para guru dan siswa merasa ketakutan hingga mengungsi keluar Kota Wamena, seperti ke Jayapura, Merauke hingga luar Papua. Menurut dia, saat ini, masih ada 5 guru SD, 60 guru SMP, 59 guru SMA, dan 30 guru SMK yang masih mengungsi.

"Kejadian pada tanggal 23 September itu, membuat kami, semua guru dan siswa semua lari. Dari 30 guru yang ada di sekolah kami, saat ini hanya 10 guru yang tersisa. Sekolah kita dirusakin, semua kaca-kaca dikasih hancur," ujar Kornae.***

Bagikan: