Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23.4 ° C

Demam Berdarah di Kota Bandung Sulit Diprediksi

Catur Ratna Wulandari
SEORANG petugas melakukan pengasapan (fogging) di kompleks Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Februari 2019. Pengasapan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang semakin meningkat dengan 2.461 kasus per Januari di Jawa Barat.*/ANTARA
SEORANG petugas melakukan pengasapan (fogging) di kompleks Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Februari 2019. Pengasapan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang semakin meningkat dengan 2.461 kasus per Januari di Jawa Barat.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Kepala Dinas Kesehatan Rita Verita Sri Hasniarty mengatakan sulit memprediksi kasus demam berdarah. 

Ia mengatakan, dilihat dari jumlah kasusnya, biasanya terjadi peningkatan signifikan pada siklus lima tahunan. "Tetapi kemarin 2018, ternyata tidak terlalu banyak," katanya, Rabu, 16 Oktober 2019.

Demam berdarah terjadi merata di seluruh kecamatan di Kota Bandung. "Tapi tidak setiap saat sama kasusnya muncul. Kadang ada naik, kadang turun," ujarnya.

Menurut data Dinas Kesehatan, pada 2018 terjadi lima kematian akibat demam berdarah. Sementara pada bulan Agustus, September, Oktober tahun ini tidak ada laporan kejadian. 

Ia mengatakan, Pemkot Bandung sudah mempunyai program pencegahan lewat Gerakan Satu Jumantik ( Juru Pantau Jentik Nyamuk ) Satu Gedung. Jumantik berperan memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya nyamuk demam berdarah.

"Kami sudah menggerakkan setiap sekolah. Di sekolah harus mempunyai jumantik, harus difungsikan. Dia memeriksa di setiap tempat perindukan nyamuk, jentik, misalnya di bak air," katanya.***

Bagikan: