Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Rancang Aplikasi Deteksi Kejahatan Siber, Universitas Widyatama Raih Medali Perak PECIPTA 2019

Catur Ratna Wulandari
KONFERENSI pers mengenai penelitian hasil kolaborasi perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia meraih medali perak di ajang International Conference and Exposition on Inventions by Institutions of Higher Learning PECIPTA 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia. Penelitian ini membuat aplikasi telefon pintar yang mampu mendeteksi dan merespons kejahatan siber.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR
KONFERENSI pers mengenai penelitian hasil kolaborasi perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia meraih medali perak di ajang International Conference and Exposition on Inventions by Institutions of Higher Learning PECIPTA 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia. Penelitian ini membuat aplikasi telefon pintar yang mampu mendeteksi dan merespons kejahatan siber.*/CATUR RATNA WULANDARI/PR

 

BANDUNG, (PR).- Penelitian hasil kolaborasi perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia meraih medali perak di ajang International Conference and Exposition on Inventions by Institutions of Higher Learning PECIPTA 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia. Penelitian ini membuat aplikasi telefon pintar yang mampu mendeteksi dan merespons kejahatan siber.

Paper berjudul Ezcybercrime Detection and Respone Mobile Apps For Smartphone merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Widyatama, Universitas Padjadjaran, dan Universiti Sains Islam Malaysia yang secara keseluruhan melibatkan tujuh peneliti. Mewakili Universitas Widyatama ialah Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, M.Si., Djoko Roespinoedji, SE., Pg.Dip., dan Prof. Dr. Mohd Haizam bin Mohd Saudi.

"Saya selaku Rektor Universitas Widyatama juga dalam kapasitas sebagai Guru Besar Universitas Padjadjaran," kata Obsatar kepada media di Kampus Widyatama, Jumat, 11 Oktober 2019. 

Obsatar mengatakan, penelitian ini berupaya memberi solusi atas kejahatan siber yang saat ini banyak dilakukan dengan mengeksploitasi media sosial. Ia mencontohkan, jika pada dekade lalu doktrin paham radikal yang mendorong kekerasan dilakukan pertemuan tatap muka, kini sudah dilakukan melalui media sosial. "Sementara upaya pemerintah hanya dengan menutup webnya. Padahal orang bisa dengan mudah membuat lagi," tuturnya.

Mendeteksi dan merespons serangan kejahatan siber

Aplikasi yang dibuat itu menawarkan solusi otonom kepada pengguna sehingga mampu mendeteksi dan merespons serangan kejahatan siber. Hal ini dilakukan dengan menggunakan apoptosis dan artificial intelligence.

Aplikasi ini bisa menjadi alat monitor dan pengamatan yang digunakan untuk mitigasi eksploitasi media sosial. Keunggulan lainnya, aplikasi ini diklaim sebagai Smart Database Ganeration.

Berdasarkan diskripsi di GooglePlay, cara kerja aplikasi ini dengan memindai aplikasi yang sudah terpasang di smartphone. Ezcybercrime akan memberikan penilaian apakah aplikasi mana saja yang berisiko. Aplikasi ini juga bisa memberikan analisa yang lebih lengkap.

Setelah menempat tempat kedua di PECIPTA 2019, karya ini akan diikutsertakan di kompetisi internasional yang diadakan di Korea pada November mendatang.

Obsatar mengatakan, kolaborasi ini bisa terjalin karena Universitas Widyatama dan Universiti Sains Islam Malaysia telah menandatangani nota kesepahaman bersama yang salah satu isinya terkait kerja sama riset.

Ia berharap, prestasi ini bisa memotivasi dosen Widyatama lainnya agar bisa menorehkan prestasi di tingkat internasional. "Selama ini kita dorong, bisa kan ternyata berprestasi internasinal," ujarnya.***

Bagikan: