Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Perguruan Tinggi Terakreditasi B di Jabar Bertambah

Catur Ratna Wulandari
ILUSTRASI perkuliahan.*/DOK. PR
ILUSTRASI perkuliahan.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Jumlah perguruan tinggi berakreditasi B di Jawa Barat bertambah signifikan. Akan tetapi, belum diikuti dengan penambahan kampus berakreditasi A.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Uman Suherman mengatakan, perguruan tinggi di Jawa Barat yang berakreditasi B bertambah 69 kampus. Sehingga jumlahnya menjadi 106 kampus dari sebelumnya yang hanya 37 perguruan tinggi.

Data terakhir hasil akreditasi menunjukkan kampus terakreditasi A tetap berjumlah lima, yaitu Telkom University, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Islam Bandung, Universitas Pasundan, dan President University.

"Belum bertambah. Harapannya bisa bertambah dua, yaitu Widyatama dan Itenas (Institut Teknologi Nasional)," kata Uman ditemui di Kampus Widyatama, Jumat, 11 Oktober 2019. 

Saat ini terdapat 135 perguruan tinggi terakreditasi C. Di Jawa Barat masih menyisakan sekitar 150 perguruan tinggi yang belum terakreditasi.

Program studi unggul

Uman menjelaskan, agar institusi pendidikan tinggi bisa meraih akreditas A terakreditas atau predikat unggul, maka program studinya harus lebih banyak yang terakreditasi A juga. "Semakin banyak akreditasi prodi A, akan lebih cepat akreditasi A," tuturnya.

Selain itu, kualifikasi dan jabatan akademik dosen juga berperan penting. Ia mengatakan, program studi yang unggul hanya bisa diraih di kampus yang memiliki dosen dengan kualifikasi dan jabatan akademik yang baik.

"Akreditasi perguruan tinggi merupakan penilaian akumulasi produktivitas kampus. Termasuk penelitiannya, publikasi, dan prestasinya," kata Uman.

Agar bisa meningkatkan produktivitasnya, kata Uman, kampus tak boleh hanya bertumpu pada pendanaan yang berasal dari mahasiswa. Sebab produktivitasnya tidak akan stabil, hanya produktif saat jumlah mahasiswanya banyak. Perlu upaya lain untuk mengoptimalkan sumber-sumber pendanaan lainnya.

"Kalau masih mengandalkan uang dari mahasiswa, berarti belum kuat," ujarnya.***

Bagikan: