Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Indonesia Butuh Banyak Hasil Riset Inovasi Bidang Bioteknologi

Dhita Seftiawan
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

JAKARTA, (PR).- Bioteknologi menjadi satu dari sejumlah bidang fokus rencana induk riset nasional (RIRN) hingga 2030. Pasalnya, pemerintah membutuhkan beragam hasil riset inovasi yang mampu melipatgandakan hasil produksi di bidang pangan dan perkebunan. Bioteknologi juga berguna untuk bidang kesehatan.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, riset inovasi bidang bioteknologi harus berguna bagi masyarakat luas hingga 30 tahun ke depan. Menurut dia, ketahanan pangan dan kesehatan akan membawa sebuah negara menjadi unggul di tingkat dunia.  Baik secara perekonomian maupun mutu sumber daya manusianya.

“Oleh karena itu, Kemenristekdikti mulai membangun pusat unggulan inovasi di bidang bioteknologi. Jumlahnya akan diperbanyak, sekarang PUI bidang bioteknologi kami bangun di Universitas Jember. Dengan adanya fasilitas ini, harus mampu menghasilkan inovasi di bidang bioteknologi yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dan dunia industri,” kata Nasir dalam siaran pers di Jakarta, Jumat, 11 Oktober 2019.

Ia meyakini, inovoasi di bidang bioteknologi akan membawa Indonesia menjadi negara swasembada pangan. Dengan adanya PUI, para peneliti diharapkan lebih termotivasi untuk menjalin kolaborasi riset baik dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri, maupun dunia industri.

“Saya berharap fasilitas ini dapat menjadi modal tambahan untuk mencapai rencana strategis pemerintah dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa. Universitas Jember perlu terus berupaya meningkatkan sinergi dengan pelaku industri dan masyarakat, sinergi ini akan memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan bangsa dan menjawab permasalahan yang dihadapi bangsa,” ucapnya. 

Ia menambahkan, hal penting yang harus diperhatikan dalam riset dan inovasi di bidang bioteknologi adalah mengenai keamanan dan etika bioteknologi (biotech security and ethical issues in biotechnology). Peneliti dalam melakukan riset dan inovasi di bidang bioteknologi harus memikirkan dan mengantisipasi dampak yang mungkin muncul dari inovasinya. 

“Apakah akan menimbulkan dampak lain pada kesehatan, lingkungan, manusia, atau lain sebagainya. Peneliti harus sudah memikirkan bagaimana bioteknologi di 10 tahun, 20 tahun bahkan 30 tahun ke depan. Misalnya terkait dengan  keamanan dan etika dari produk-produk bioteknologi,” tutur Menristekdikti.

Rektor Universitas Jember Mohamad Hasan mengatakan, peresmian 13 fasilitas baru itu diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri dosen dan mahasiswa Universitas Jember. Termasuk dalam menjalin kemitraan baik di dalam maupun luar negeri.

Ketiga belas fasilitas pendukung tersebut saat ini digunakan antara lain sebagai laboratorium terpadu, agrotechnopark dan auditorium. Sarana dan prasarana ini menjadi bagian penting untuk peningkatan mutu dan lulusan yang dihasilkan.

“Kami sudah menjalin kerjasama bioteknologi dengan dua perguruan tinggi di Jerman, yakni Flensburg University of Applied Sciences dan  Biberach University of Applied Sciences. Universitas Jember juga tengah mempersiapkan pembukaan Program Studi Doktor Bioteknologi setelah sebelumnya kita membuka Program Studi Magister Bioteknologi,” katanya.***

Bagikan: