Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Pelampung Kellua, Purwarupa Pelindung Terjangan Tsunami Karya Mahasiswa ITB

Dhita Seftiawan
PURWARUPA pelindung badan untuk korban tsunami dipamerkan dalam ajang World Invention Technology Expo (Wintex). Pelindung semacam pelampung yang diberi nama Kellua itu merupakan karya inovasi 3 mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Yakni Jaswin dari jurusan teknik mesin, Elizabeth Pramuditha dan Alfiandra jurusan manajemen rekayasa.*/DHITA SEFTIAWAN/PR
PURWARUPA pelindung badan untuk korban tsunami dipamerkan dalam ajang World Invention Technology Expo (Wintex). Pelindung semacam pelampung yang diberi nama Kellua itu merupakan karya inovasi 3 mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Yakni Jaswin dari jurusan teknik mesin, Elizabeth Pramuditha dan Alfiandra jurusan manajemen rekayasa.*/DHITA SEFTIAWAN/PR

JAKARTA, (PR).- Purwarupa pelindung badan untuk korban tsunami dipamerkan dalam ajang World Invention Technology Expo (Wintex). Pelindung semacam pelampung yang diberi nama Kellua itu merupakan karya inovasi 3 mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Yakni Jaswin dari jurusan teknik mesin, Elizabeth Pramuditha dan Alfiandra jurusan manajemen rekayasa.

“Kellua itu artinya mengapung. Berasal dari bahasa Finlandia. Penelitiannya selama satu semester. Tapi idenya sudah dari lama. Kelebihan Kellua ini melindungi seluruh badan. Berbeda dengan pelampung yang biasanya. Jadi kalau terjadi tsunami, mampu melindungi lebih baik. Nyaris tidak ada celah untuk benturan badan dengan benda,” kata Jaswin di lokasi pameran, Sasana Kriya, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.

Kellua dibuat melingkar seperti ban. Bahannya terbuat dari nilon berkualitas tinggi. Jaswin menuturkan, Kellua tinggal menunggu uji coba tahap akhir untuk bisa diproduksi massal. Menurut dia, bahan baku Kellua bertahan lama dan mudah dicari.

“Setahu kami, selama ini belum ada peralatan yang mampu melindungi korban yang terkena tsunami dengan baik. Masih memakai pelampung biasa, di mana tidak ada pelindung kepala. Makanya sangat rawan terkena benturan. Tapi Kellua ini masih prototipe dan harus menjalani tes lanjutan,” ujarnya.

Alfiandra menambahkan, ide bentuk dan fungsi Kellua setelah mereka bermain hamsterball. Bola dari nilon yang berukuran besar sehingga bisa dimasuki manusia. Menurut dia, hamsterball popular dimainkan di negara-negara Eropa.

“Setelah ikut acara ini, semoga penelitian ini bisa berlanjut. Produknya bisa lebih mapan lagi sehingga bisa diproduksi massal dan dikomersialisasikan. Seluruh materialnya sudah ada, tapi memang mahal. Untuk 1 produk mencapai 1,3 juta,” kata Elizabet.

Wintex merupakan ajang yang diinisiasi Invention and Innovation Promotion Association (Inoppa) dan International Young Inventors Award (IYIA). Peserta dari 18 negara memamerkan karya inovasinya yang berupa purwarupa di berbagai bidang. “Jadi ini dikompetisikan juga, pemenangnya akan dibantu untuk mendapatkan investor,” ujar President of Innopa Erricha Insan Pratisi.

Ia menuturkan, Indonesia Inventor Day merupakan platform anak muda Indonesia maupun internasional untuk memamerkan hasil karya inovasi mereka ke pasar industri. Target dari ajang tersebut untuk memotivasi para siswa dan mahasiswa menciptakan sebuah karya inovasi.

Ia mengatakan, para peserta akan dikenalkan dengan investor dari dalam dan luar negeri, pengacara dan peneliti senior yang sudah banyak melahirkan inovasi. “Agar pengembangan lanjutan terkait produk inovasinya melalui inisiasi proses komersialisasi, atau pemberian paten, atau mendapatkan investor,” katanya.

Produk inovasi yang dipamerkan terbagi ke dalam 19 kategori. Kendati demikian,  sebagian besar peserta Indonesia memanfaatkan kekayaan alam sebagai bahan dasar produk inovasinya. Antara lain untuk obat dan kuliner yang selama ini belum pernah ditemukan.

"Ketika kami sering ikut di internasional, itu Indonesia selalu absen. Makanya kami merasa perlu dibuatkan wadah untuk para inovator Indonesia untuk dikembangkan produknya di Indonesia. Kemudian dijembatani produknya sampai ke internasional. Kami di Indonesia merasa banyak inovator yang tidak bisa pergi ke luar negeri, akhirnya kami bentuk juga dengan standar internasional,” ujarnya.***

Bagikan: