Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20.7 ° C

Guru Diimbau Terapkan STEM dalam Pembelajaran untuk Menjawab Abad 21

Sarnapi
PARA guru SD negeri dan swasta di Gugus 61 Kota Bandung mengikuti workshop di SD Yos Sudarso yang dihadiri Kepala Disdik Kota Bandung, Hikmat Ginanjar, Jumat, 4 Oktober 2019.*/DOK.GUGUS 61
PARA guru SD negeri dan swasta di Gugus 61 Kota Bandung mengikuti workshop di SD Yos Sudarso yang dihadiri Kepala Disdik Kota Bandung, Hikmat Ginanjar, Jumat, 4 Oktober 2019.*/DOK.GUGUS 61

BANDUNG,(PR).- Para guru SD dan SMP diimbau untuk menggunakan pembelajaran di sekolah  secara  terintegrasi melalui Sains Teknologi Engineering dan Matematika (STEM). Hal itu untuk memacu para guru agar kreatif dan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan membuat solusi atas masalah yang terjadi.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Hikmat Ginanjar, dalam workshop penerapan STEM yang diadakan Gugus 61 SD Kota Bandung di aula SD Yos Sudarso, Jumat, 4 Oktober 2019. Acara dihadiri Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan SD Disdik Kota Bandung, Ahmad Taufan, dan para kepala SD dan guru se-Gugus 61.

"Dengan kemajuan teknologi dan tantangan era kini sehingga harus ada perubahan cara pengajaran kepada para siswa," kata Hikmat didampingi Kepala Gugus 61 SD,  Lilis Siti Rahayu.

Dia menambahkan, STEM dimulai dari penentuan masalah lalu guru mengajak siswa untuk melakukan urun solusi. "Dibahas bersama antara guru dan siswa yang asilnya berupa model solusi atas masalah lalu diterapkan. Proses akhir dengan evaluasi apakah hasilnya sesuai dengan masalah atau tidak?" ucapnya.

Lilis menambahkan, keunggulan STEM adalah menyenangkan dan sesuai dengan masalah kehidupan sehari-hari. "Siswa akan cakap dalam menghadapi problem di abad 21 atau era disrupsi ini. Siswa juga dilatih mengeluarkan kemampuan yang ada seperti mengeluarkan pendapat," katanya.

Sedangkan Kepala SD Assalaam, Jaenudin . mengatakan, para guru sudah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan masah STEM ini baik dari Gugus 61maupun pihak sekolah. "Pada dasarnya guru berusaha menerapkan STEM meski kadang masih meraba-raba sudah benar atau tidak.  "Dalam kurikulum 2013 sudah ada materi STEM, namun harus kita pilah-pilah kira-kira mana yang bisa kita buat STEM," katanya.

Dia menambahkan, SD Assalaam Bandung membuat proyek STEM misalnya cara kerja pesawat,  pupuk organik cair dan hidroponik yang dikerjakan para siswa. "Pupuk organik cair dari limbah organik kantin sekolah seperti kulit pisang dan cangkang telur. Dari praktik pembuatan pupuk organik cair ini melibatkan beberapa mata pelajaran seperti dalam STEM," ujarnya.

Penerapan STEM, kata Jaenudin, tak membutuhkan biaya mahal sebab bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di sekolah. "Umumnya sekolah-sekolah mengeluh kalau pembelajaran STEM perlu membeli bahan-bahan sehingga butuh dana. Padahal, STEM bisa dengan kearifan lokal dan memakai bahan-bahan yang ada di lingkungan sekolah," katanya.

Namun, tak sedikit guru yang mengeluh sebab harus ada integrasi antarilmu. "Guru umumnya hanya menguasai satu bidang ilmu, padahal kalau guru mau belajar insya Allah mampu. Guru harus menjadi manusia pembelajar," katanya.***

Bagikan: