Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 28.5 ° C

Kemendikbud Gandeng ITB untuk Terapkan Kelas Sementara Penetralisir Dampak Karhutla

Dhita Seftiawan
BARA api terlihat di lahan yang terbakar di daerah Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa, 17 September 2019. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah menyebabkan sejumlah daerah di Provinsi tersebut diselimuti kabut asap.*/ANTARA
BARA api terlihat di lahan yang terbakar di daerah Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa, 17 September 2019. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah menyebabkan sejumlah daerah di Provinsi tersebut diselimuti kabut asap.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menanggulangi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terhadap proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dengan demikian, siswa di daerah Karhutla diharapkan segera kembali sekolah tanpa harus terancam terkena risiko penyakit akibat asap.

Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan, ITB memiliki alat dan desain kelas sementara yang bisa menetralisir dampak asap yang dalam sepekan terakhir semakin tebal menyelimuti beberapa sekolah di daerah. Teknologi tersebut sudah pernah diterapkan pada kejadian Karhutla pada 2015 lalu. 

“Sekarang masih dilihat perkembangannya. Pemerintah akan siapkan kalau memang nanti dampak asap ini terlalu lama. Segera saya rapatkan kemungkinan untuk membangun atau menyiapkan namanya ruang belajar bebas asap. Yang sudah ada teknologinya sangat sederhana dari ITB,” kata Muhadjir di Kantor Kemendikbud, Rabu, 18 September 2019. 

Ia menjelaskan, ITB juga akan dilibatkan dalam membangun ruang kelas bebas asap. Kemendibud masing menghitung biaya untuk membangun sarana dan prasarana tersebut.

“Jadi nanti ruang kelasanya terbuka, banyak jendela dan dipasangi penyaring partikel lalu diberi pelembab,” katanya.

Ia menuturkan, saat ini, Kemendikbud terpaksa meliburkan siswa di beberapa sekolah terdampak Karhutla. Kebijakan tersebut diambil setelah Mendikbud mengikuti rapat terbatas dengan Presiden RI Joko Widodo di Pekanbaru, Riau beberapa waktu lalu.

“Liburnya bervariasi di masing-masing daerah.  Ada yang sudah 9 hari. Ada yang baru 3 hari tergantung tingkat keparahannya. Tetapi guru dan kepala sekolah tetap kerja di sekolah. Ada juga yang memantau kegiatan siswa di rumah bekerja sama dengan orang tua siswa,” ujarnya.

Tindakan cepat

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pemerintah bertindak cepat dan tepat dalam menanggulangi dampak Karhutla. Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti menuturkan, asap yang melanda sebagian Sumatera dan Kalimantan sangat merugikan siswa.

“KPAI mendorong pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk bersinergi bahu membahu mengatasi kebakaran hutan dan segala dampaknya, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan lainnya,” katanya.

Ia menuturkan, KPAI juga mendorong pihak sekolah untuk menyiapkan strategi pembelajaran berbasis online atau menggunakan aplikasi di internet. Dengan demikian, seluruh peserta didik di wilayah bencana asap tetap dapat mengikuti pembelajaran tanpa harus keluar rumah atau dengan belajar di rumah. 

“Yang sederhana, para walikelas dan siswa dapat membentuk grup per kelas, tugas-tugas dari para guru bidang studi dapat dikirimkan melalui grup wa. Bagi yang tidak paham tugas tersebut, dapat berdiskusi dengan gurunya langsung” katanya. 

KPAI juga mendorong pemerintah daerah untuk segera membangun sekolah darurat demi pemuhan hak atas pendidikan anak-anak yang menuntut ilmu di sekolah. “Intinya pemerintah pusat, provinsi, kota/kabupaten agar senantiasa bertindak cepat. Jangan sampai kegiatan belajar di sekolah diliburkan terlalu lama,” ujarnya.***

Bagikan: