Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 18.8 ° C

Cegah Bahasa Daerah Punah, Tenaga Leksikograf Mutlak Dibutuhkan

Dhita Seftiawan
ILUSTRASI kamus Bahasa Sunda.*/DOK.PR
ILUSTRASI kamus Bahasa Sunda.*/DOK.PR

JAKARTA, (PR).- Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dadang Sunendar mengatakan, Indonesia masih kekurangan tenaga leksikograf atau ahli dalam penyusunan kamus. Hal tersebut membuat beberapa bahasa daerah terancam punah setiap tahun.

Dadang menuturkan, Indonesia memiliki bahasa negara yang hebat dan banyak sekali bahasa daerah. Oleh karena itu, memerlukan banyak sekali leksikograf andal. Menurut dia, jumlah leksikograf di Indonesia belum cukup dibandingkan dengan jumlah bahasa yang harus dikembangkan. 

“Kami berusaha memperkenalkan kepada masyarakat bahwa ada dunia leksikografi yang sangat menarik. Sebuah profesi yang biasanya hanya dilakukan oleh leksikograf namun sekarang juga dilakukan oleh masyarakat,” kata Dadang di Jakarta, Kamis, 12 September 2019. 

Ia menuturkan, untuk menjaga bahasa daerah dari kepunahan, Kemendikbud juga meluncurkan kamus braille elektronik yang diberi nama KBBI Disnet. KBBI Disnet ini merupakan program baru yang dikembangkan dari versi cetak yang sudah diluncurkan tahun lalu.

Mendikbud Muhadjir Effendy menegaskan, pihaknya akan mempercepat kodifikasi bahasa daerah untuk menghindari kepunahan warisan budaya takbenda. Selain itu juga membangun sumber daya manusia melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN) dalam menyambut era revolusi industri 4.0.

“Di Indonesia banyak sekali bahasa yang bisa diratifikasi. Selama ini baru 668 bahasa, padahal itu belum sampai separuh. Jadi masih perlu kerja keras untuk bisa mengumpulkan khasanah kekayaan takbenda kita, terutama yang berkaitan dengan kebahasaan,” ujar Muhadjir. 

Ia menuturkan, jika tidak segera dikodifikasi, bahasa daerah hanya akan berkembang sebagai bahasa penutur, bukan bahasa tulis. Dengan demikian, jika hanya jadi bahasa penutur, bahasa daerah akan sangat rentan punah.

“Hal ini karena semakin kehilangan orang yang menggunakannya dan tidak ada pencatatan yang sistematis. Oleh karena itu, peranan para leksikograf menjadi sangat penting untuk Indonesia,” ucapnya.

Ia berharap, Badan Bahasa dan Perbukuan merencanakan lebih sungguh-sungguh untuk menyiapkan tenaga ahli di bidang leksikografi. Leksikograf masih sangat penting untuk mengimbangi atau mempercepat kompilasi dan kodifikasi terhadap bahasa-bahasa yang sekarang masih menjadi bahasa penutur. 

Menurut dia, kemajuan teknologi informasi saat ini harus disikapi para leksikograf dengan bijaksana. “Tantangan yang lebih serius sebetulnya adalah mulai bergesernya dunia lisan menjadi dunia tulisan. Dalam dunia tulisan ditemukan teknologi yang sangat modern berupa kertas. Sekarang kertas sudah tidak modern lagi dan mulai ditinggalkan menjadi dunia elektronik, dunia siber, dunia virtual,” katanya. 

Ia menegaskan, kemajuan teknologi harus menjadi bahan diskusi para leksikograf. “Bagaimana menghadapi tantangan terbaru saat ini. Sekarang ini untuk mengakses kosakata tidak sesulit dahulu yang memerlukan kamus tebal tapi cukup membawa satu ponsel bisa menjelajah dalam waktu yang singkat dan bisa memeriksa kembali dari berbagai sumber,” ucapnya.***

Bagikan: