Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

Jumlah Dosen dan Publikasi Ilmiah Belum Sebanding

Dhita Seftiawan
ILUSTRASI dosen.*/DOK. PR
ILUSTRASI dosen.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Meskipun meningkat dengan pesat dalam 5 tahun terakhir, jumlah publikasi ilmiah internasional dari Indonesia belum sebanding dengan jumlah dosen dan peneliti yang tersebar di 4.607 perguruan tinggi. Saat ini, dari sebanyak 177.000 dosen dan peneliti yang terdaftar di Science and Technology Index (Sinta), Indonesia hanya menghasilkan 34.007 jurnal terindeks Scopus.

Kendati demikian, jumlah publikasi tersebut merupakan yang terbanyak di tingkat Asia Tenggara. Menungguli capaian Malaysia yang menerbitkan 33.386 publikasi. Namun, jumlah dosen, peneliti dan perguruan tinggi di Malaysia jauh lebih sedikit dibandingkan dengan di Indonesia.

Menristekdikti Mohamad Nasir menuturkan, selain kuantitas, kualitas hasil penelitian Indonesia juga belum memiliki daya saing tinggi. Hal tersebut terjadi karena penelitian inovatif nasional yang masih rendah. Ia menegaskan, ke depan, fokus hasil riset nasional akan lebih diarahkan kepada kualitas.

“Salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia yakni belum sebandingnya jumlah mahasiswa dan jumlah dosen dengan jumlah publikasi yang dihasilkan. Hasil penelitian anak negeri di tingkat global masih kurang dikenal,” kata Nasir di Kantor Kemenristekdikt, Jakarta, Jumat 13 September 2019.

Hilangkan ketergantungan

Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas secara bersamaan, Kemenristekdikti mendorong semua dosen dan peneliti produktif mengirim jurnal ilmiah ke Sinta yang dikelola Kemenristekdikti. Menurut dia, Sinta akan membantu peneliti dan dosen untu melahirkan publikasi ilmiah secara eksponensial.

Pasalnya, ucap dia, Sinta dapat memotivasi para peneliti untuk lebih giat menghasilkan publikasi dan perlahan dapat menghilangkan ketergantungan penggunaan sistem pengindeks publikasi dari luar negeri. Kendati demikian, ia mengakui, Sinta masih jauh dari sempurna.  

“Karena memang baru dimulai. Namun tidak akan berhenti untuk disempurnakan. Dengan Sinta diharapkan daya saing jurnal dan publikasi ilmiah dapat meningkat tajam di tahun-tahun ke depan. Publikasi ilmiah sangat penting sebagai bukti pertanggungjawaban ilmiah hasil penelitian sehingga dapat dikenal luas secara global," kata Nasir.

Selain meningkatkan mutu sumber daya manusia, kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah juga menjadi salah satu parameter penilaian mutu perguruan tinggi. Menurut dia, perguruan tinggi berkualitas dunia menempatkan publikasi ilmiah sebagai indikator utama dalam melakukan pemeringkatan.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati menambahkan, dalam kurun 1 tahun, Sinta telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dari sisi kuantitas dan kualitas. Sampai 9 September 2019 telah terdaftar lebih dari 177.000 dosen dan peneliti, 4.776 lembaga, 2.720 jurnal, 26.588 buku dan 2.543 kekayaan intelektual yang sudah masuk terindeks di Sinta berdasarkan hasil verifikasi, akreditasi dan evaluasi. 

“Integrasi data sebelumnya dengan Google Scholar dan Scopus, ditingkatkan dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk buku, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual untuk paten dan hak cipta, serta Web of Science,” kata Dimyati. 

Ia menegaskan, Indonesia masih harus mengeluarkan upaya besar dalam meningkatkan visibilitas publikasi dan jurnal ilmiah. Dosen dan peneliti didorong untuk melakukan penelitian dan publikasi ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan kenaikan jabatan dan pengembangan karier.***

Bagikan: