Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Umumnya berawan, 20.1 ° C

Gedung MIN 7 Tergusur Bandara, Sudah 4 Tahun Belum Diganti

Tati Purnawati
TUSWAIDIN salah seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 7 Majalengka di Dusun Sukamaju, Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka   tengah mengajar sejumlah murid.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
TUSWAIDIN salah seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 7 Majalengka di Dusun Sukamaju, Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka tengah mengajar sejumlah murid.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

MAJALENGKA,(PR).- Sejumlah murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 7 Majalengka di Dusun Sukamaju, Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka sudah empat tahun belajar berhimpitan di ruang kelas yang dulunya bekas bangunan UPT Trasnlok, setelah sekolah mereka di Desa Kertasari digusur akibat pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Murid  di sekolah tersebut memang sangat sedikit hanya 27 orang seluruhnya berasal dari warga blok setempat. Sedangkan gurunya 3 orang. Semua murid belajar di satu ruangan yang hanya berukuran sekitar 4 X 6 m, yang kondisinya sudah memprihatinkan. Atap bangunan nyaris ambruk termakan usia, demikian juga dengan langit-langit ruangan dan bagian dindingnya. Maklum bangunan tersebut dibuat sekitar 19 tahun yang lalu saat adanya program transmigrasi lokal akibat konflik di Aceh dan Kalimantan.

Untuk mengefektifkan ruangan belajar, dibuat beberapa sekatan, ada juga yang dibiarkan terbuka, sehingga kelas yang satu dengan kelas yang lain tanpa batas apapun. Ketika satu kelas belajar maka murid yang ada di kelas lain mendengar dengan jelas apa yang dikatakan guru lain.

Sulit bagi mereka untuk belajar dengan konsentrasi penuh karena di satu ruangan sempit dan rusak harus diisi beberapa urid dari berbagai tingkatan kelas, ditambah dengan suhu udara panas. Sebaliknya di saat musim penghujan air menembus genting dan langit-pangit ruangan hingga membasahi buku dan lantai.   

Tempat darurat

Menurut keterangan guru di sekolah tersebut Tuswaidin, kondisi belajar seperti itu sudah berlangsung selama kurang lebih 4 tahunan tepatnya sejak tahun 2015 usai penggusuran sekolah mereka. Karena awalnya sekolah berada di Desa kertasari dengan jumlah murid yang lumayan banyak dan gedung sekolah yang permanen. 

Namun ketika terjadi penggusuran, sebagian murid pindah ke tempat lain sebagaimana orangtua mereka mendapatkan lahan pengganti. Sebagian lagi pindah ke lokasi trasnlok sehingga mereka melanjutkan sekolah di sana dan gurupun mengajar di sana. 

“Belum ada penggantian gedung baru sejak sekolah kami digusur, karenanya murid di sini terpaksa belajar di tempat darurat,” ungkap Tuswaidin. 

Untuk belajar ke sekolah lain jaraknya lumayan jauh hingga menjacapi 3 km, tidak ada kendaraan umum sehingga mereka harus berjalan kaki menyusuri perkebunan. Selain itu murid dan orangtua merekapun menghendaki belajar di MI tidak di sekolah SD.

Marsel salah seorang murid mengaku sulit berkonsentrasi saat belajar karena jarak antarkelas tanpa pembatas apa pun sehingga suara yang ada di ruangan sekecil apapun sangat terdengar. Apalagi kalau salah satu kelas lain tidak belajar karena guru harus mengajar murid lain.

Sekolah baru

Kepala Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Samsudin berharap pemerintah segera memperhatikan murid MI di wilayahnya dengan membangun sekolah baru mengganti sekolah lama yang tergusur pembangunan bandara.

Pihaknya telah beberapa kali menyampaikan persoalan tersebut namun belum juga bisa terealisasi. Padahal bandara sudah beroperasi dan ganti rugi lahan untuk yang lain juga sudah dilakukan.

Kasie Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Aef Saefullah kepada sejumlah wartawan mengatakan, pembangunan MI Merkarjaya masih menunggu anggaran dari pemerintah sedangkan tanahnya sudah tersedia.

Nasib yang sama juga menimpa SD Kertajati 3 yang dulunya belajar di SD Cintakaya yang juga korban penggusuran. SD tersebut kini belajar di sekolah MD yang juga kondisinya memprihatinkan, terbuat dari bilik bambu di pinggir hutan.

Bupati Majalengka Karna Sobahi ketika dimintai konfirmasi perihal tersebut mengatakan, sekolah tersebut akan dibangun karena Pemerintah Provinsi akan segera menyerahkan dana sebesar Rp 30 milyar untuk sarana pasilitas khusu dan pasilitas umum bagi Kabupaten Majalengka dan itu rencananya diperuntukan bagi pasus serta pasum di Kertajati. Dana tersebut akan diberikan pemprov pada perubahan anggaran tahun ini.

“Tadi Pak Gubernur sudah bicara, akan menyerahkan dana Rp 30 milyar untuk pasus dan pasum, termasuk didalamnya untuk pembangunan SD dan MI,” ungkap Bupati Karna.***

Bagikan: