Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

9 Peserta Penjaringan Balal Calon Rektor Paparkan Visi Misi

Catur Ratna Wulandari
REKTOR Unpad/DOK. PR
REKTOR Unpad/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Panitia Pemilihan Rektor Universitas Padjadjaran 2019-2024 memberi kesempatan kepada sembilan peserta penjaringan bakal calon rektor untuk memaparkan visi misinya di depan awak media dalan konferensi pers yang digelar, Senin, 2 September 2019. Mereka memaparkan rencananya terkait kinerja akademik, sumber daya manusia, sampai manajemen Unpad yang berstatus PTNBH.

Toni Toharudin, kandidat dari FMIPA ini menyoroti data soal kinerja akademik guru besar yang kurang optimal. Output para profesor dirasa kurang. 

Menurut Toni yang saat ini menjabat sebagai Ketua Badan Akreditasi Nasional Madrasah, guru besar harus didorong untuk mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal, bukan hanya mengejar indeks Scopus. Ia mengatakan, Unpad juga bisa meningkatkan publikasi riset ilmiah dengan memberikan insentif tertentu. Misalnya saja membebaskan biaya kuliah mahasiswa S3 dengan syarat bisa mempublikasikan risetnya di jurnal bereputasi setidaknya tiga karya selama menempuh pendidikan.

Soal insentif juga disampaikan Rina Indiastuti yang saat ini menjabat sebagai Plt. Rektor Unpad. Dosen yang terbukti memiliki kinerja publikasi Q2 dan Q1 akan mendapat insentif tambahan. Mereka akan diberi dana pendamping untuk menyerap sumber dana riset eksternal dari dalam dan luar negeri. "Ini untuk menjamin keberlanjutan peningkatan publikasi dan indeks sitasi dam mewujudkan Unpad sebagai top 500 dunia," katanya.

Dalam kesempatan itu, Rina juga menyampaikan, ia telah berhenti sebagai Sekretaris Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti sejak 23 Agustus 2019. Hal itu karena sebagai syarat mengikuti Pemilihan Rektor Unpad harus berstatus sebagai dosen Unpad. "Jadi status saya sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad," ujarnya.

Menurut Guru Besar Ilmu Sejarah Reiza D. Dienaputra, saat ini jumlah guru besar Unpad sendiri masih belum ideal. "Masih di bawah 10 persen," ujarnya.

Jumlah itu masih di bawah perguruan lain, misalnya saka IPB yang mempunyai 16,4 persen dari jumlah dosen yang dimiliki. Juga Universitas Hasanudin yang persentasenya mencapai 16,3 persen.

Menurut dia, peningkatan kualitas dosen harus diarahkan pada upaya peningkatan kualitas pendidikan dosen hingga ke jenjang pendidikan tertinggi. Tak hanya sampai doktor, tetapi hingga jabatan fungsional tertinggi, yaitu guru besar.

Arief S. Kartasasmita dalam paparannya mengatakan, tata kelola Unpad harus mempunyai tolak ukur dalam hal membagi peran antara rektorat dan fakultas. "Agar tidak ada one man show," katanya.

Arief yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Keuangan ini mengatakan, tenaga kependidikan pun harus mempunyai jenjang karir yang harus diperhatikan. Sebagai Wakil Rektor yang mengelola keuangan Unpad, Arief meyakinkan tidak ada masalah dengan kondisi keuangan Unpad. "Keuangan Unpad aman, asal kita enggak loba kahayang. Selama sesuai pada perencanaan, maka aman," katanya.

Hanya saja ekspektasi terhadap keuanga terlalu tinggi. Anggaran Unpad saat ini di kisaran Rp 1,3 triliun tiap tahunnya.

Sri Mulyani menyoroti soal pengelolaan universitas yang harus dikelola secara transparan dan akuntabel. Ia mengatakan, penilaian kinerja keuangan Unpad harus didasarkan pada laporan keuangan. Laporan keuangan Unpas musti dibuka ke publik. Situs Unpad bisa memberi akses bagi masyarakat akademik, tenaga kependidikan, juga mahasiswa untuk mengetahui perkembangan Unpad.

"Unpad bukan milik rektor, Unpad milik seluruh sivitas akademik," ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini.

Soal tata kelola, Unang Supratman dari FMIPA Unpad mengatakan, perli asa SOTK yang efektif dan efisien. "Harus jelas siapa mengerjakan apa," kata Profesor Kimia Organik ini. Rektor yang memimpin sekitar 2.000 dosen da tenaga kependidikan Unpad haris bisa mengatur hal itu.

Ia mengatakan, Unpad harus bisa menciptakan sumber pendanaan yang diperlukan untuk mencapai perguruan tinggi kelas dunia. Misalnya dengan mengembangkan berbagai kolaborasi, baik dalam hal kegiatan akademik maupun sharing facility.

Guru Besar Hidrogeologi Vulkanik Fakultas Teknologi Geologi Hendarmawan mengatakan, ketergantungan dana dari SPP dan pemerintah masih tinggi. Selain reputasi akademik, riset, dan pengabdian masyarakat, reputasi bisnis juga penting dibangun. Misalnya dengan membuat dana abadi serta manajemen alumni. Empat reputasi itulah yang mampu mengantarkan Unpad menjadi 500 perguruan tinggi kelas dunia.

Keberadaan Unpad di Jabar tak bisa dilepaskan, maka itu Arry Bainus ingin Unpad menjadi terdepan di Jawa Barat dan menjadi rujukan kemajuan Indonesia dan dunia. Cita-cita menembus peringkat 500 dunia hanya bisa dicapai dengan soliditas antara dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.

"Harmoni dalam kemajuan, tanpa harmoni tidak mungkin mendapatkan kemajuan. Reputasi prodi, dosen, tendik harus ditingkatkan," kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ini.

Keri Lestari dari Fakultas Farmasi juga menekankan sinergitas Unpad. Sinergi itulah yang menurutnya mampu mengatasi keterbatasan yang dihadapi Unpad. Sinergi lokal dan global penting untuk meningkatkan performa Unpad. "Perlu melakukan penguatan ekosistem elinovasi sehingga tercipta kondisi yang mampu menumbuhkan motivasi dsn kreativitas untuk berinovasi," kata Keri yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor III Unpad.***

Bagikan: