Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Umumnya cerah, 22.6 ° C

Dana Abadi Riset Naik Enam Kali Lipat

Dhita Seftiawan
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.*/DOK HUMAS KEMENRISTEKDIKTI
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.*/DOK HUMAS KEMENRISTEKDIKTI

DENPASAR, (PR).- Dana abadi riset tahun anggaran 2020 sebesar hampir Rp 6 triliun. Jumlah tersebut meningkat 6 kali lipat dari tahun ini yang hanya Rp 950 miliar. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menargetkan, jumlah dana abadi riset pada 2024 mencapai minimal Rp 30 triliun.

Menristekdikti Mohamad Nasir menuturkan, peningkatan dana tersebut sebagai bentuk komitmen pemerintah yang dalam 5 tahun ke depan memprioritaskan program peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kendati demikian, dana sebesar itu masih jauh dari cukup untuk membawa kualitas riset nasional bisa bersaing di tingkat dunia. 

“Kami awalnya meminta Rp 30 triliun untuk tahun 2020. Tapi yang disetujui DPR hanya Rp 5 triliun. Jadi total dana abadi riset untuk tahun depan sebesar Rp 5.9 triliun. Tahun selanjutnya kami meminta anggaran untuk terus dinaikkan. Agar target hingga 2024 sebesar minimal Rp 30 triliun tercapai,” kata Nasir dalam seminar kesehatan HIV/AIDS peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24, di Denpasar, Bali, Selasa 27 Agustus 2019.

Ia menjelaskan, penggunaan dana abadi riset harus sejalan dengan rencana induk riset nasional (RIRN). Di antaranya bidang kesehatan dan obat-obatan, kemaritiman, teknologi informasi dan komunikasi. Menurut dia, dana yang digunakan bersumber dari bunga dari dana abadi riset.

“Jadi kalau dari Rp 6 triliun itu bunganya sekitar 5 persen saja, berarti dana untuk riset setiap tahunnya mencapai Rp 300 miliar. Itu kalau bunganya 5 persen. Kalau misalnya lebih dari 5 persen, ya, lebih banyak lagi. Riset-risetnya bisa kolaborasi dengan peneliti asing atau sepenuhnya dari peneliti nasional,” ucapnya.

Potensi penelitian

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti di Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menambahkan, di bidang kesehatan, riset yang didanai dari bunga dana abadi akan diarahkan pada bidang keanekaragaman hayati. Pasalnya, pada bidang tersebut masih minim peneitian. Sementara Indonesia sangat kaya dengan keanegaragaman hayati.

“Ada peneliti dari Inggris yang sampai kebingungan saking banyaknya keanekaragaman hayati milik Indonesia untuk diteliti. Banyak yang bisa diteliti dan manfaatnya bisa diberikan untuk kita, bahkan untuk dunia. Ironisnya, 90 persen obat-obatan kita masih impor. Jadi penelitian di bidang ini harus terus didorong agar produktif dan inovatif,” kata Ghufron.

Ia mengatakan, kesiapan SDM Indonesia untuk penelitian bidang kesehatan sudah cukup baik. Kendati demikian, agar relevan dengan tantangan masa depan, masih tetap dibutuhkan penelitan kolaboratif. Ghufron berharap, adanya dana abadi riset memotivasi para peneliti untuk melakukan terobosan. 

“Kolaborasi riset itu penting. Bisa kolaborasi dengan peneliti asing atau peneliti kita yang menjadi dosen di kampus luar negeri. Makanya kami dalam 3 tahun terakhir ini mendatangkan ilmuwan diaspora dari berbagai negara. Mereka bisa menjembatani agar peneliti lokal bisa menggunakan fasilitas riset di kampus dunia sehingga penelitiannya memiliki daya saing,” kata Ghufron.

Ia menuturkan, sedikitnya ada 18.000 tumbuhan yang siap dikembangkan untuk menjadi beragam obat. Di antaranya untuk obat HIV/AIDS dan kanker. Ia berharap, penggunaan dana abadi riset bisa mendongkrak mutu dan kualitas riset nasional. “Kemarin, belum lama ini, ada penelitian tentang akar bajakah dari siswa SMA. Itu bisa dilanjutkan penelitiannya,” ucapnya.***

Bagikan: