Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Mahasiswa Rentan Mengalami Masalah Gangguan Mental

Novianti Nurulliah
SUASANA Pelatihan Penanggulangan Pertama terhadap Gangguan Jiwa di Kalangan Mahasiswa (Mental Health First Aid (MHFA) Perguruan Tinggi) yang digelar di Gedung Sate, Jalan Diponegoro Kota Bandung, Sabtu 24 Agustus 2019.
SUASANA Pelatihan Penanggulangan Pertama terhadap Gangguan Jiwa di Kalangan Mahasiswa (Mental Health First Aid (MHFA) Perguruan Tinggi) yang digelar di Gedung Sate, Jalan Diponegoro Kota Bandung, Sabtu 24 Agustus 2019.

BANDUNG, (PR), - Sekitar 78% mahasiswa, selama mejalani studi pernah mengalami masalah gangguan kesehatan mental atau mental health (MH). 40 persen di antaranya selain menimbulkan penderitaaan juga mengganggu prestasi akademisnya‚ dan 33,2% serius memikirkan tindakan bunuh diri. Bunuh diri 3 orang mahasiswa selama 3 bulan di sebuah perguruan tinggi adalah puncak gunung es dari permasalah MH di perguruan tinggi.

Lebih kurang 40% kelompok usia 18-25 tahun selama 2 sampai 4 tahun berada di lingkungan perguruan tinggi, dan sebagaian besar gangguan mental mulai terlihat sebelum usia ini, sehingga perguruan tinggi merupakan tempat yang ideal untuk mengidentifikasi adanya ganguan kesehatan mental.

Hal itu diungkapkan oleh dokter spesialis kejiwaan dr Teddy Hidayat dalam Pelatihan Penanggulangan Pertama terhadap Gangguan Jiwa di Kalangan Mahasiswa (Mental Health First Aid (MHFA) Perguruan Tinggi) yang digelar di Gedung Sate, Jalan Diponegoro Kota Bandung, Sabtu 24 Agustus 2019.

"Di satu sisi masalah mental health mahasiswa di perguruan tinggi itu besar dan penting, namun di sisi lain mental health mahasiswa belum mendapat perhatian yang memadai. Akibatnya masalah mental health pada mahasiswa tidak terdeteksi, tidak diobati, menjadi kronis‚ meningkatkan angka kesakitan hingga kematian,"ujar dia.

Selain itu,  bunuh diri dan krisis mental yang berhubungan dengan mental health meningkat, prestasi akademis rendah dan droup out. Kerugian terbesar adalah kehilangan investasi yang ada dan kehilangan hari-hari produktif.

Diakui Teddy, masalah kesehatan mental sampai saat ini masih belum dianggap penting atau prioritas, padahal satu dari empat orang memiliki masalah kesehatan mental dan mungkin mereka itu adalah orang terdekat. Pengetahuan dan pemahaman yang terbatas mengenai kesehatan mental menyebabkan banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa yang harus mereka perbuat.

"Survei WHO di 28 negara menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil penderita gangguan mental yang mencari dan mendapatkan bantuan. Sampai mendapatkan bantuan umumnya menunda selama 1-14 tahun untuk gangguan suasana hati dan 3-30 tahun untuk gangguan cemas, " kata Teddy.

Padahal semakin terlambat mendapat pertolongan, lanjut dia, semakin buruk prognosanya. Alasan mereka tertunda mendapatkan bantuan antara lain karena tingginya stigma terhadap gangguan jiwa di masyarakat, faktor ketidaktahuan untuk mencari bantuan ke fasilitas kesehatan jiwa.

Lebih jauh, Teddy menuturkan tujuan akhir MHFA adalah adalah healthy university, yaitu univertsitas yang memberi perhatian dan merespons masalah kesehatan jiwa lingkungannya dengan karakteristik “well being dan happiness”. Healthy University yang menjadi sasaran antara untuk sampai pada world class university. ***

 

 

 

Bagikan: