Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Literasi Bukan Hanya Membaca

Dhita Seftiawan
SEJUMLAH anak membaca buku yang tersedia di layanan Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) di Taman Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 15 Desember 2018. Kolecer atau perpustakaan jalanan yang berada di taman kota tersebut bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi serta meningkatkan minat baca masyarakat.*/ANTARA
SEJUMLAH anak membaca buku yang tersedia di layanan Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) di Taman Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 15 Desember 2018. Kolecer atau perpustakaan jalanan yang berada di taman kota tersebut bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi serta meningkatkan minat baca masyarakat.*/ANTARA

LITERASI dengan berbagai gerakannya menjadi hal yang semakin diperjuangkan dalam bidang pendidikan. Akan tetapi, apakah literasi bermakna sekadar senang membaca buku?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, menyatakan bahwa literasi menjadi ruh dari semua gerakan pendidikan. Guru Besar Universitas Negeri Malang ini juga mengingatkan agar makna literasi jangan direduksi sekadar membaca buku.

"Padahal, literasi itu melalui membaca kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian, dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus-menerus sepanjang hayat,” ucap Muhadjir, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019.

Apalagi, ketika ia mengomentari Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dijalankan di sekolah-sekolah. GLN itu, bagi dia, merupakan cara untuk menanamkan sikap positif gemar membaca, gemar menulis, serta gemar berimajinasi bagi guru dan siswa. 

“Terutama termasuk para guru, tutor, bahkan kepada para tokoh masyarakat menyadarkan mereka tentang betapa pentingnya literasi itu," ujarnya.

Ia menyatakan, guru harus dapat membimbing dan merangsang siswa untuk berkreasi dari referensi yang dibacanya. Bukan sekadar mewajibkan untuk membaca buku, guru juga harus memantik diskusi sehat yang melatih daya kritis dan kemampuan berkomunikasi. 

Karena itulah, guru harus melek teknologi untuk mengimbangi informasi yang diperoleh siswa. Pasalnya, kemajuan teknologi membuat buku bukan lagi satu-satunya sumber informasi tepercaya.

"Sekarang anak-anak bisa mendapatkan informasi, pengetahuan, dari mana saja. Dari internet, makanya guru jangan terpaku literasi itu membaca buku saja,” kata Muhadjir.

ILUSTRASI literasi.*/ANTARA

Enam literasi dasar wajib

Pada peta GLN 2016-2019, Kemendikbud menetapkan enam literasi dasar yang wajib dikembangkan melalui tripusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Di antaranya literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewarganegaraan. 

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar, menuturkan, upaya membangun sinergi dalam mengembangkan dan memperkuat GLN perlu dilakukan oleh semua pihak, kementerian, berbagai lembaga, serta masyarakat. Ia berharap, semua kementerian/lembaga terkait merumuskan rekomendasi agenda bersama dalam rangka penguatan dan fasilitasi kegiatan GLN. 

Menurut dia, ada lima tema dalam DKT GLN 2019. Kelimanya adalah peta jalan GLN 2019-2024, rancangan pembuatan Peraturan Presiden/Instruksi Presiden tentang GLN, praktik baik GLN, literasi digital, dan literasi numerasi.

"Mendatang, kita akan coba fokus pada dua literasi, yaitu literasi digital dan literasi numerasi," kata Dadang.***

Bagikan: