Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Pelajar Asal Papua Merasa Adem Sekolah di Ciamis

Nurhandoko
PELAJAR asal Papua yang sekolah di SMKN 2 Ciamis, Kamis 22 Agustus 2019. Tidak pernah mendapat perlakukan diskriminasi, tetap berbaur tanpa sekat dengan siswa lainnya.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
PELAJAR asal Papua yang sekolah di SMKN 2 Ciamis, Kamis 22 Agustus 2019. Tidak pernah mendapat perlakukan diskriminasi, tetap berbaur tanpa sekat dengan siswa lainnya.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

CIAMIS,(PR).- Pelajar asal Papua yang bersekolah di tatar galuh Ciamis, hingga saat ini tetap aman serta tidak terpengaruh dengan terjadinya gejolak yang ada di Papua. Mereka lebih takut apabila persoalan tersebut berkepanjangan, karena khawatir pendidikannya akan terganggu. 

Siswa asal Papua belajar di berbagai daerah, termasuk sekolah di tatar Galuh Ciamis melalui program Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem). Di Ciamis siswa Papua tersebar belajar di  SMA dan SMK. Salah satunya adalah SMK 2 Ciamis.

Saat ini ada sembilan anak Papua yang tengah menuntut ilmu di SMKN2 Ciamis. Salah satunya adalah Libert yang baru dua bulan berada di Ciamis. Sosoknya tampak tenang. Rekan lainnya adalah Eson Jikua, Alfa, Rian Kafiar,  dan Anton Iba.

Dia menambahkan sejak menginjakkan kaki di tatar galuh, tidak pernah merasakan atau mendapatkan perlakukan diskriminasi. Sebaliknya menerima sambutan hangat dari temannya asal Ciamis. Pelajar asal Papua tersebut juga menyebut warga Ciamis baik dan ramah.

“Teman-teman semua baik dan ramah. Meskipun baru kenal, mereka sangat menghargai.  Kami belum pernah mendapat perlakukan diskriminasi apalagi rasis. Kami juga menganggap Ciamis menjadi rumah kedua,” tutur Libert, ketika ditemui  di SMKN 2 Ciamis, Kamis 22 Agustus 2019.

Semua bersaudara

Hal tersebut juga dikuatkan Anton Iba dan rekan lainnya. Anton mengaku prihatin dengan terjadinya gejolak di Papua. Yang dikhawatirkan adalah keberlangsungan pendidikannya, apabila trjadi gejolak yang berkelanjutan. Dia berharap agar persoalan tersebut dapat segera selesai. Selain itu juga bertekad menyelesaikan pendidikannya di Ciamis.

“Jika ada kerusuhan di Papua, kami juga takut. Harapan saya kerusuhan segera berakhir, kerusuhan itu kan bisa merusak persaudaraan. Jangan ada kerusuhan hanya gara-gara kesalahpahaman. Kita semua bersaudara, setanah air,” ujarnya.

Lebih lanjut Anton juga mengungkapkan pelajar asal Papua yang ada di Ciamis pernah dikumpulkan oleh Polres Ciamis. Diajak makan dan bincang bersama, perlakuan tersebut membuat mereka merasa aman serta dihargai.

Sementara itu, Kepala SMK Negeri 2 Ciamis Asep Agus mengatakan di sekolahnya ada sembilan siswa asal Papua yang belajar melalui program Adem. Sampai saat ini, seluruh siswa tersbeut juga tetap aman, dan nyaman belajar.

“Tidak terpengaruh oleh gejolak di sana. Mereka tetap belajar sepeti biasa, tidak ada sekat dan berbaur dengan siswa lainnya. Tidak pernah ada yang mengadu karena mendapat perlakuan diskriminasi di Ciamis,” tutur kepala SMKN 2 Ciamis Asep Agus.

Terpisah kepala SMA N 3 Ciamis DedeHidayat kepada wartawan, mengatakan ada 15 siswa  asal Papua yang belajar di sekolahnya. Mereka adalah siswa yang terdaftar melalui program Adem. Seluruh pelajar tersebut, tinggal di asrama yang berada di lingkungan sekolah. Setelah terjadi gejolak, seluruh siswanya dikumpulkan serta diberi pengarahan, serta diminta tidak khawatir serta tetap konsentrasi belajar.***

Bagikan: