Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

70 Persen Guru Tidak Kompeten

Dhita Seftiawan
null
null

JAKARTA, (PR).- Guru yang memiliki kompetensi di atas rata-rata atau lulus Uji Kompetensi Guru (UKG) dengan nilai minimal 80 tak lebih dari 30 persen. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan mengingat peran guru dalam upaya membangun mutu sumber daya manusia sangat strategis.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Dudung Nurullah Koswara menjelaskan, tak hanya guru, 70 persen dari total kepala sekolah juga belum memiliki kompetensi standar. Menurut dia, rendahnya kompetensi tersebut akibat  dari guru dan kepala sekolah sudah tak tertarik dengan tantangan membangun SDM berkualitas.

Penilaian Dudung tersebut didasarkan pada data hasil UKG yang belum memuaskan. Yakni, pada 2015 nilai rata-rata guru secara nasional untuk guru TK sebesar 43,74 poin. Guru SD 40,14 poin, guru SMP 44,14 poin dan guru SMA 45,38 poin.  Ia menyatakan, sampai pada UKG 2017, nilai rata-rata belum mencapai 70 poin. 

“Padahal harapan pemerintah minimal meraih rata-rata 80. Terlepas dari kekurangsiapan dan kelemahan alat ukur UKG faktanya nilai kompetensi guru secara nasional kategorinya belum lulus. Kita harus jujur guru-guru yang kompeten memang banyak. Namun jauh lebih dominan adalah guru-guru yang tak kompeten,” kata Dudung kepada “PR” Online di Jakarta, Kamis 22 Agustus 2019.  

Malas berorganisasi

Menurut dia, inkompetensi guru di antaranya terjadi karena rendahnya minat belajar, membaca, menulis dan menghasilkan karya media pembelajaran. Ia menduga, guru malas untuk mengikuti organisasi profesi sehingga tak memiliki motivasi untuk meningkatkan kemampuannya. “Seolah guru teralienasi dari dunia yang seharusnya mereka lakukan. Ini bahaya,” katanya.

Meningkatkan kompetensi guru menjadi tugas besar pemerintah. Pasalnya, ucap dia, guru-guru di daerah masih banyak yang belum tersentuh oleh pelatihan secara berkala. Kesejahteraannya pun masih kurang dari cukup. Ia berharap, rencana besar peningkatan SDM dalam 5 tahun ke depan diawali dengan fokus membenahi kompetensi dan kesejahteraan guru.

Kasihan memang guru-guru kita. Mereka masih berada di zona nyaman dan zona lugu. Mental mencari zona tak nyaman dan suka pada tantangan sangat rendah. Guru-guru kita perlu diupgrade, dibrainwash agar memiliki keawasan dan kewarasan yang lebih baik. Guru-guru di negeri kita teralu baik atau lugu. Kurang memiliki daya berontak.  Berontak untuk berubah,” ujarnya.

Ia menilai, guru akan bertransformasi dari inkompeten menjadi kompeten tatkala nasib dan kesejahteraan guru secara keseluruhan sudah sangat baik. “Ketika mereka sudah merdeka itu pun perubahannya dimulai dari para calon guru dari siswa serta mahasiswa terbaik. Bila profesi guru menjadi profesi yang menjanjikan, terhormat dan sejahtera maka sejumlah generasi terbaik akan memilih menjadi guru. Dari sinilah UKG dan kompetensi guru akan mulai sesuai harapan,” katanya.

Lima potensi dasar

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Supriano menyatakan, Kemendikbud terus mengupayakan berbagai program yang dapat meningkatkan kualifikasi pendidikan, kompetensi dan keterampilan guru dan tenaga kependidikan. Beragam stimulan lain juga terus diberikan agar guru mampu mengajarkan dan membimbing peserta didik menguasai lima potensi dasar abad ke-21. 

Yaitu kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif, komunikatif, bekerja sama, dan berkolaborasi, serta mampu menghadirkan sebuah kepercayaan diri. Pada 2020, Kemendikbud akan memberikan pelatihan guru berbasis kebutuhan tersebut.

“Melalui program peningkatan kompetensi pembelajaran (PKP) berbasis zona. Para guru didorong untuk saling bertukar pengalaman dengan sejawatnya di Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di wilayah masing-masing, khususnya dalam memecahkan permasalahan pembelajaran di kelas. Polanya 5 in (pelatihan) dan 3 on (penerapan). Dan jumlahnya 82 jam. Materinya cukup lengkap," ujar Supriano.***

Bagikan: