Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Langit umumnya cerah, 19 ° C

Peserta Didik Jalur Informal dan Nonformal Kini Bisa Pindah Jalur ke Sekolah Formal

Catur Ratna Wulandari
ILUSTRASI pendidikan.*/DOK. PR
ILUSTRASI pendidikan.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Peserta didik jalur informal di Kota Bandung kini bisa pindah jalur ke jalur nonformal ataupun formal, demikian pula sebaliknya. Kota Bandung menjadi kota pertama di Indonesia yang menerbitkan aturan yang mengatur perpindahan jalur ini.

Pemerintah Kota Bandung menerbitkan Peraturan Wali Kota Bandung nomor 31 Tahun 2019 tentang Tata Cara Pengujian, Pindah Jalur Pendidikan, dan Pengakuan Hasil Belajar. Sebelum ada aturan ini, peserta didik dari jalur informal maupun nonformal sering ditolak saat akan pindah ke sekolah formal.

"Sudah banyak anak SMP dan SMA yang putus sekolah bisa masuk ke jalur nonformal. Tidak adil ketika dari nonformal tidak bisa ke jalur formal," kata Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung Cucu Saputra usai peluncuran dan sosialisasi Perwal Perpindahan Jalur dan Pengakuan Hasil Belajar di Aula Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Ilmu Pengetahuan Alam, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019.

Ia menjelaskan, dengan Perwal ini, perpindahan jalur tidak hanya bisa dilakukan ketika peserta didik akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi bisa juga dilakukan di jenjang yang sama. "Misalnya kelas 1 Paket C pindah ke SMA," ujarnya.

Cucu mengatakan, Perwal ini merupakan turunan dari Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Menurut Perda itu, peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dapat pindah jalur dari informal ke nonformal ataupun formal setelah mendapat pengakuan hasil belajar dari lembaga yang ditetapkan Pemkot Bandung.

Hasil pendidikan informal dapat dihargai dan diakui setelah lulus dari uji kompetensi yang dilaksanakan oleh lembaga penguji yang ditetapkan Pemkot Bandung.

"Ada pengakuan hasil belajar saat dia pindah jalur. Misalnya, ada anak yang pidatonya hebat, puisinya bagus, tapi kemudian dianggap tidak bisa Bahasa Indonesia karena tidak mengikuti Pelajaran Bahasa Indonesia. Maka itu perlu ada assessment," tuturnya.

Pemkot Bandung menetapkan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) sebagai lembaga yang melakukan penilaian itu. SKB merupakan unit pelaksana teknis di bawah Disdik Kota Bandung.

Ia menambahkan, pindah jalur ini berlaku bagi seluruh warga Kota Bandung. Pemkot akan mengkomunikasikan kebijakan ini kepada Disdik Jabar yang saat ini mengelola SMA dan SMK.

Pakar pendidikan masyarakat (dahulu pendidikan luar sekolah) Elih Sudiapermana mengatakan, Perwal ini akan menghilangkan dikotomo antara sekolah informal, nonformal, dan formal. "Ini akan jadi sinergi antara pendidikan formal, nonformal, dan informal. Akan semakin saling menguatkan lahirnya SDM unggul untuk Indonesia Maju," katanya.

Ia mengatakan, Undang-Undang Pendidikan Nasional memberi peluang bagi Pemda untuk mengatur sendiri penyelenggaraan pendidikannya. Dengan semangat itu, Kota Bandung bisa memberikan pelayanan pendidikan yang setara bagi warganya. "Di Bandung menyatakan dengan ini bisa, tidak boleh lagi 
ada orang yang merasa ditinggalkan, selama dia sudah mencapai kompetensi," tuturnnya.

Ia mengatakan, perpindahan jalur ini sebelumnya sulit dilaksanakan karena sekolah formal masih enggan menerima peserta didik dari jalur informal dan nonformal. Padahal sudah banyak bukti, siswa pendidikan dari jalur informal dan nonformal mempunyai kompetensi yang baik, bahkan ada yang diterima di perguruan tinggi.

Anak berkebutuhan khusus 

Pegiat pendidikan inklusi Juju Sukmana mengatakan, Perwal ini akan bermanfaat bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang selama ini kesulitan saat hendak berpindah dari jalur nonformal ataupun informal ke jalur formal. Ia sendiri mengalami pahitnya saat mencari sekolah bagi anaknya yang berkebutuhan khusus. 
Pada 2010, Juju dan keluarganya pindah dari Amerika Serikat ke Bandung. di Amerika anaknya sudah kelas 1 SMP, saat pindah ke Bandung ia harus rela anaknya mengulang ke kelas 6. Itupun ia harus pindah sekolah, karena sekolah yang dituju meragukan anaknya bisa lulus Ujian Nasional. "Waktu itu UN masih jadi momok," ujarnya.

Ia juga kesulitan mencari SMP yang mau menerima anaknya. Akhirnya ia menempuh jalur pendidikan nonformal. Kini anaknya sedang menyusun tugas akhir di Universitas Widyatama. Kemahiran anaknya dalam bidang teknologi komputer bahkan sudah mengharumkan nama Indonesia di kompetisi internasional. 

Yanti Herawati juga akhirnya memilih pendidikan nonformal bagi pendidikan ketiga anaknya yang berkebutuhan khusus. Anaknya dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus karena memiki kecerdasan yang jauh melampaui anak seusianya. Salah seorang anaknya menyelesaikan pendidikan Paket C pada usia 13 tahun. Kini anaknya usia 16 tahun tengah menempuh pendidikan semester 5 di ITB.

Anaknya yang lain ingin pindah jalur dari nonformal ke sekolah formal. "Tapi akhirnya masuk ke sekolah swasta karena agak susah mengurus NISN (Nomor Induk Siswa Nasional)," ujarnya.

Cucu berharap, aturan ini juga mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang sekolah informal dan nonformal. Kedudukannya setara dengan pendidikan formal. 

Pada Minggu, 25 Agustus 2019 di area Car Free Day Jalan Dago, Disdik Kota Bandung akan membuka pendaftaran bagi warga yang ingin melanjutkan pendidikan lewat jalur nonformal. Forum PKBM akan membuka pendaftaran bagi warga. Pemerintah akan menyediakan bantuan bagi warga yang tidak mampu.***

Bagikan: