Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Mengatasi Limbah Cair dengan Cangkang Telur

Catur Ratna Wulandari
PARA mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran membuktikan cangkang telur bisa menjadi adsorben limbah cair. */ CATUR RATNA WULANDARI/PR
PARA mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran membuktikan cangkang telur bisa menjadi adsorben limbah cair. */ CATUR RATNA WULANDARI/PR

BARANGKALI tak banyak orang yang tak suka pada telur. Telur memang enak untuk dibuat apa saja, bahkan jikapun tak diolah menjadi makanan lain. Telur rebus atau telur ceplok saja sudah enak dipakai untuk pelengkap bubur atau nasi. Banyak orang malah suka makan telur mentah untuk alasan kesehatan.

Masalahnya, dari sekian banyak konsumsi telur, pasti banyak cangkang telur yangterbuang percuma, hanya menjadi penghuni tempat sampah. Kalaupun ada orang yang agak rajin, cangkang itu dipakai untuk hiasan tanaman yang runcing. Atau kalau memang rajin dan terampil, cangkang telur dibuat hiasan setelah dilukis bagian luarnya.

Di tangan para mahasiswa Universitas Padjadjaran, cangkang telur bisa menjadi sesuatu yang berguna.

Cangkang telur ternyata bisa menjadi adsorben limbah cair. Jika dicampur dengan sekam padi, cangkang telur terbukti efektif menyerap tembaga dan metilen biru yang terkandung pada limbah cair.

Penelitian ini dilakukan oleh tiga mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unpad, yaitu Hendri Setiawan, Umi Faoziyah Anindi, dan Dedek Yusuf Pulungan. Mereka mengembangkan campuran atau komposit dari limbah cangkang telur dan sekam padi sebagai adsorben tembaga dan metilen biru. Adsorben sendiri merupakan zat padat yang dapat menyerap fluida dalam proses adsorpsi atau penyerapan.

"Cangkang telur yang digunakan bisa jenis apa saja, baik telur ayam kampung maupun lainnya. Semua bisa dipakai karena mempunyai potensi yang sama," kata Hendri kepada PR, Jumat 16 Agustus 2019.

Murah dan bermanfaat

Bukan tanpa alasan para mahasiswa Unpad tersebut memilih cangkang telur. Pemilihan cangkang telur dan sekam padi lantaran bahan-bahan itu murah, dan memiliki nilai guna lainnya. Harapannya, komposit yang dihasilkan lebih ekonomis, tetapi efektif, dan efisien untuk mengatasi limbah cair.

Penelitian dilakukan untuk memperoleh komposit hidroksiapatit-biochar dari cangkang telur ayam dan sekam padi, serta mengukur kemampuan adsorpsinya terhadap polutan anorganik (Cu (II)) dan polutan organik metilen biru.

Cangkang telur diubah menjadi hidrosipatit. Sedangkan sekam padi diolah menjadi arangnnya. Menurut mereka, proses ini lebih mudah dan murah dibandingkan mengolahnya menjadi karbon aktif.

Penelitian yang dibantu oleh dosen pembimbing, Atiek Rostika Noviyanti ini mendapat pendanaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi setelah berhasil masuk ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa kategori Penelitian Eksakta.

Hasil penelitian itu menunjukkan, komposit yang dikembangkan mampu menyerap sampel metilen biru sebanyak 85% dan sampel tembaga sebanyak 90%. Metode adsorpsi itu sendiri dipilih karena metode ini paling efektif dan efisien dalam menangani limbah.

Hendri mengatakan, untuk pemanfaatannya, adsorben ini bisa digunakan di limbah cair yang sudah dikumpulkan di sistem pengolahan limbah. Kemudian ditambahkan adsorben lalu diaduk.

Tembaga kerap ditemui di limbah industri. Jika langsung dibuang, logam bisa mencemari air. Jika melampaui batas wajar, limbah tembaga bisa menyebabkan sirosis hati. Salah satu penyebab penyakit ini ialah penumpukan tembaga di organ hati. Angka penderita penyakit ini di Indonesia mencapai 150 ribu kasus per tahunnya.

Hendri mengatakan, penelitian ini baru difokuskan pada limbah cair berupa tembaga dan metilen biru yang banyak terkandung di limbah industri. Masih perlu penelitin lebih lanjut untuk mengaplikasikannya pada limbah padat atau lainnya. Ia menambahkan, saat ini timnya tengah menguji hasil penelitian ini terhadap tingkat keasaman air.

"Kami belum ada rencana sampai mengomersilkan hasil penelitian ini. Ini lebih untuk pengabdian masyarakat," ujarnya. ***

Bagikan: